Guru Profesional Wajib UKG

MALANG – Menjadi guru profesional di era yang berbasis teknologi, memiliki berbagai tuntutan peningkatan kompetensi. Salah satunya adalah mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG). Guru adalah profesi, jadi perlu ada uji kompetensi untuk mengetahui kemampuannya. Kompetensi guru harus dipantau dari beragam aspek.  
“Jika banyak yang tidak setuju, artinya belum siap untuk menjadikan guru sebagai profesi,” kata Dr. A. Hanief Saha Ghafur Staf Ahli Kemendikbud bidang Sistem Evaluasi dan Penjaminan Mutu saat menjadi pemateri seminar nasional dengan tema ‘UKG, Solusi atau Masalah?’ yang digelar BEM FIP UM bekerjasama dengan Malang Post di GKB D2 FIP Universitas Negeri Malang (UM) kemarin (18/11).
Menurutnya dosen Universitas Indonesia ini, jika guru benar-benar profesional, ia harus siap menerima konsekuensi untuk melihat sejauh apa kemampuan yang ia miliki. Uji kompetensi guru juga dilakukan di beberapa negara maju.
 “Di banyak negara, ujian semacam ini juga dilakukan dan sudah lama diterapkan. Di luar negeri standartnya lebih tinggi. Tujuannya sama, ingin memetakan kompetensi guru,” kata pria yang juga dosen Studi Kajian Timur Tengah dan Islam ini.
Ia menambahkan, UKG digelar untuk memetakan kompetensi guru dan melakukan upaya pembinaan kompetensi guru. Hasil UKG adalah umpan balik terhadap kebijakan pengembangan SDM pendidik di Indonesia.
Mengenai nilai peserta UKG yang kebanyakan belum memenuhi standart, Hanief mengatakan, Kemendikbud melakukan pembinaan di daerah melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Balai Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal (BPPNFI), Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK).
“Selain itu kampus sebagai lembaga pendidikan pencetak tenaga pendidik harus meningkatkan standar kompetensinya dan harus ditingkatkan secara berkesinambungan,” tegasnya.
Menurutnya, UKG baru digelar tahun ini, wajar jika dalam proses dan pelaksanaannya masih belum sesuai harapan. “Nantinya UKG masih terus dievaluasi untuk pelaksanaan yang lebih baik,” katanya.
Sementara itu dalam seminar kemarin Muchtar, S.Pd, M.Si banyak memaparkan problematika guru. “Banyak guru yang belum melek TI, padahal pendidikan saat ini mengarah ke sana,” ujar Kaprodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UM ini.
Ia menambahkan, untuk menyambut era teknologi, dunia pendidikan juga harus siap. Salah upayanya adalah menyelenggarakan uji kompetensi dengan menggunakan teknologi informasi (TI).  “UKG menjadi kebutuhan semua pihak terkait. Oleh karena itu, perlu mendapat dukungan dari semua kalangan. Kekurangan yang terjadi dalam pelaksanaannya, perlu mendapatkan perhatian untuk segera diperbaiki,” jelasnya.
“Seminar ini merupakan upaya kami menyikapi UKG, karena kebijakan ini sempat menimbulkan pro dan kontra. Kami berharap dengan seminar ini stakeholder pendidikan bisa menyikapi UKG untuk peningkatan kompetensi guru,” kata Khilman Rofi Azmi Ketua Pelaksana.
Seminar nasional pendidikan yang digelar BEM FIP UM kemarin benar-benar luar biasa. Peserta membeludak hingga mencapai 500 peserta. Sampai-sampai panitia kewalahan menerima peserta yang mendaftar pada saat pelaksanaan. ‘’Kami berterima kasih kepada para guru yang sangat antusias mengikuti seminar ini. Semoga acara ini bermanfaat dan memberikan solusi terbaik bagi kemajuan profesi guru,’’ tambahnya.(nin/lim)