Konsisten di Jalur Instalasi Keramik, Ponimin Kian Eksis

MALANG - Penghargaan The Learning University Award Universitas Negeri Malang (UM) jatuh kepada tiga dosen terbaik UM. Kategori Pendidikan diraih oleh Prof. Drs. Bambang Yudi C, M.Pd., M.A., Ph.D , kategori Sains dan Teknologi diraih Prof. Drs. Efendi, M.Pd., Ph.D, dan kategori Ilmu Sosial, Humaniora, Seni, dan Olah Raga diraih oleh Drs. Ponimin Sucipto.
Salah satu dosen penerima penghargaan, Ponimin Sucipto bukanlah sosok yang asing. Perupa dan Dosen Jurusan seni dan desain Fakultas Sastra UM ini bahkan memiliki nama besar di luar negeri. Karena itu sangat layak jika penghargaan yang diberikan bertepatan Diesnatalis ke 58 UM diberikan untuknya.
”Penghargaan ini memberikan makna bahwa seni di UM mendapatkan tempat sejajar dengan ilmu yang lain,” ungkapnya ditemui di Malang Post kemarin.
Selama ini Ponimin membuat karya seni instalasi keramik tidak hanya berbekal ekspresi saja. Tapi ada proses riset yang dilakukan secara akademik. Karya-karyanya pun sudah pernah dipajang di sejumlah negara diantaranya di India, Inggris, China dan Singapura.
Di Inggris pameran dilaksanakan dalam ajang International Ceramics Festival, Aberystwyth, Wales, Inggris 2011 lalu. Pengalaman internasional Ponimin diawali sejak ia masih menjadi mahasiswa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Saat ini Ponimin sedang menempuh studi S3 dalam program Doktor Kreatif Art di ISI Yogya.
Re interprestasi Kisah Cinta Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji dalam karya keramik diangkat menjadi bahan penelitiannya. Sekali lagi, karakter yang kuat dari sosok Ponimin mewarnai karya barunya itu. Ia mencoba mendobrak stigma lama dan dengan mainstreamnya menghadirkan gaya baru. Kalau selama ini orang melihat bahwa kisah cinta Panji dan Dewi Sekartaji adalah cinta yang indah dan suci, menurutnya kisah ini justru memberikan pelajaran bahwa cinta tersebut juga berbalut dengan unsur politik.
”Politik mewarnai kisah cinta dua kelas yang digambarkan dalam lakon ini, dan pesan inilah yang selama ini tidak diungkap,” kata dia.
Menurutnya lakon yang sama yaitu Rama Sinta sebenarnya memertegas bahwa kelas bawah tidak bisa menembus kelas atas. Gambaran itu ia tampilkan dalam karya terbarunya dimana sosok Anggraeni yang berasal dari kelas bawah mencoba menggapai cinta Panji Asmoro Bangun. Anggraeni digambarkan sedang melompat tembok yang dibawahnya penuh duri. Kepalanya berhasil menjuntai dibalik tembok dimana Panji dan Dewi Sekartaji sedang duduk santai. Namun kaki dan tangannya menjulur di luar tembok. Kaki dan tangannya meleleh menggambarkan betapa sulitnya keinginannya bisa terwujudkan.
Menghadirkan seni yang kontekstual dan bukan tekstual adalah ciri Ponimin. Karya tersebut bisa dilihat dari karya keramik terbarunya Kenduri di Tumpeng Terbalik. Karya ini bercerita mengenai realita sosial yang banyak terjadi di era sekarang. Ia berpendapat leluhur di masa lalu menciptakan budaya dengan nilai filosofis tinggi  untuk anak generasi berikutnya, dan sekarangpun masih banyak dilakukan. Akan tetapi anak generasi sekarang telah banyak  mengkhianati dan membohongi nilai mulia kenduri tumpeng.
Kenduri tumpeng dilakukan banyak melawan nilai keagungan tersebut (value figthing). Implementasinya justru nilai kontraproduktif. Sikap keserakahan kelompok masyarakat atau individu yang sedang dalam posisi sebagai Wong agung dalam lingkungan kelompoknya. Mereka menggarong nasi  tumpeng kenduri jatah wong alit. Masyarakat akar rumput (wong alit) dengan jumlah yang lebih banyak justru saling berkelahi antar sesama dalam kelompoknya untuk berebut menyantap tumpahan  dan ceceran ujung nasi tumpeng kenduri yang terbalik sisah santapan Wong agung. (oci/adv/eno)