Robot Hidrolik Permudah Pelajari Fluida

MALANG - Robot Hidrolik karya guru SMK Putra Indonesia Malang (PIM) yakni Eka Tries Yuliani mengantarkannya meraih juara tiga forum ilmiah guru tingkat nasional. Guru Fisika SMK PIM ini membuat media pembelajaran yang dianggap inovatif dan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran siswa.
Kepada Malang Post, alumnus Universitas Negeri Malang (UM) ini menuturkan robot hidrolik tersebut dimanfaatkannya untuk mengajarkan materi fluida pada kelas X SMK. Fluida adalah salah satu disiplin ilmu yang mengkaji perilaku dari zat cair dan gas dalam keadaan diam maupun bergerak dan interaksinya dengan benda padat.
“Selama ini siswa sangat sulit menerima materi Fluida jika hanya diajarkan tanpa alat peraga,” ungkapnya ditemui di kampus PIM kemarin.
Kesulitan siswa dalam memahami materi fluida ini terungkap saat guru bimbingan konseling (BK) SMK PIM menyebarkan angket kepada siswa. Dalam angket tersebut sekolah mencoba menggali kesulitan siswa dalam menyerap materi di kelas. Dan ternyata 55 persen siswa di kelas X mengalami kesulitan saat memelajari pembahasan Fluida.
Sejak April 2011 lalu Eka mulai merancang robot fluida itu. Meski hanya terbuat dari kayu namun dapat melakukan tugas fisik secara manual dengan cara digerakkan oleh manusia. Robot ini dibuat dari kayu Balsa. Bagian lainnya adalah jarum suntik bekas untuk mengisi tinta printer, selang dan baut. Karena menggunakan limbah, menurutnya alat tersebut tidak mahal. Kayu basal dipilihnya karena memudahkan dalam proses perakitan dan bongkar pasang.
Setelah dilakukan penelitian, ternyata daya serap pemahaman siswa jauh lebih besar ketika pembelajaran fluida dilakukan menggunakan robot temuannya itu.
”92 persen siswa kelas X bisa menuntaskan materi ini dengan baik,” ucapnya bangga.
Menurutnya saat presentasi di hadapan juri, ada beberapa poin yang membuatnya meraih nilai. Di antaranya, robot yang dibuatnya tidak hanya berfungsi untuk mengajarkan satu bidang pelajaran saja, tapi bisa mencakup empat hal yaitu tekanan, tekanan hidrostatis, hukum paskal, dan persamaan kontinuitas.
”Selain itu alat peraga ini juga mudah dibuat dan murah,” kata alumnus SMAN 1 Tumpang ini.
Keikutsertaan Eka dalam forum nasional itu diawali dari seleksi tingkat kota dan kemudian di tingkat propinsi. Secara nasional ada 77 guru yang memresentasikan karyanya di Jakarta (7-10/11) lalu. Ia berharap bisa terus berinovasi dan membuat karya yang bisa mengantarkan siswa mencintai Fisika.(oci/eno)