Blended Learning, Solusi Peningkatan Mutu RSBI

MALANG - Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) sering menjadi sorotan karena model pembelajarannya dinilai belum layak berstandar internasional. Demi meningkatkan mutu pembelajaran dan aplikasi teknologi untuk RSBI, kemarin Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Malang menggelar seminar pembelajaran berbasis Blended Learning, kemarin.
“Blended larning adalah pembelajaran yang memadukan tatap muka dan pembelajaran berbasis komputer secara online dan offline,” ujar Dr. Wasis D. Dwiyogo, M.Pd pemateri dari Universitas Negeri Malang (UM).
Pembelajaran berbasis blended learning selain untuk meningkatkan hasil belajar juga bertujuan untuk meningkatkan hubungan komunikasi di lingkungan pembelajaran yakni lingkungan tradisional, blended, dan sepenuhnya online.
“Sebelum jaman teknologi, manusia belajar tiga 3M yakni membaca, menulis, dan menghitung. Namun saat ini telah berubah menjadi 3T yakni teknologi, tim, dan transfer,” ujarnya.
Dikatakannya, sebelum jaman teknologi semakin berkembang siswa hany belajar melalui buku. Namun saat ini siswa sudah belajar melalui media cetak, audio, audio visual, internet, dan mobile learning.
Unsur-unsur blended learning adalah mengkombinasikan tatap muka dan e-learning yakni tatap muka, belajar mandiri, aplikasi, tutorial, kerjasama, dan evaluasi.
“Menurut Human Development Index, Indonesia menempati posisi lima besar penduduk terbanyak di dunia. Dengan jumlah penduduk yang banyak, SDM Indonesia sangat berpotensi dalam teknologi,” kata dosen Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang (UM) ini.
Ia menyayangkan potensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia tidak dikelola dengan baik. Akibatnya, negara ASEAN yang dulunya masih di bawah Indonesia justru saat ini mampu melampaui SDM Indonesia.
“Saat ini peringkat Indonesia menempati posisi 124 dalam kualitas SDM. Vietnam saja saat ini sudah di atas Indonesia,” ujarnya. Untuk itu, lembaga pendidikan memiliki peranan penting dalam meningkatkan SDM Indonesia melalui pembelajaran yang berbasis blended learning.
Dikatakannya, seiring dengan kemajuan teknologi, guru harus bisa menjadi seniman (artist) dan ilmuwan (scientist) dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran melalui berbagai sumber belajar.
Sementara itu salah satu RSBI yakni SMKN 5 mengakui adanya kendala dalam penyelenggaraan RSBI. “Input siswa yang masuk RSBI tidak semua dari SMP yang RSBi. Sehingga kami harus memberi tambahan agar sesuai dengan standar kompetensi. Ini yang membuat pembelajaran kurang efektif dan efisien,” ujar Budi Purwanto, S. Pd, MM guru SMKN 5 Kota Malang.
Dikatakannya, dibandingkan dengan input siswa dari SMP yang RSBI sekolah tidak perlu memberi jam tambahan karena kompetensinya sudah memenuhi standar RSBI.(nin/eno)