Perguruan Tinggi Lupakan Masalah Bangsa

MALANG - Perguruan Tinggi (PT) terlalu asyik mengurusi kepentingan lembaganya sendiri sehingga melupakan masalah bangsa. Padahal situasi bangsa saat ini sudah memrihatinkan dimana konflik suku, agama ras dan golongan (SARA) terjadi dimana-mana, tak terkecuali di Kota Malang. Hal itu diungkapkan Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah 7 Jawa Timur, Prof Dr H Suko Wiyono SH MH. Dia pun berharap perguruan tinggi Jatim mulai menyusun langkah menghadapi permasalahan tersebut.
“Perlu segera dilakukan pertemuan antar perguruan tinggi untuk menyikapi konflik antar mahasiswa yang mulai marak kembali,” ungkap Suko. Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM) ini kemarin berbicara dalam seminar nasional Fasilitasi Pemasyarakatan Pancasila di Lingkungan Perguruan Tinggi Revitalisasi dan Aktualisasi Pancasila yang dilaksanakan di Aula A3 UM.
Diakuinya komunikasi antar perguruan tinggi ini penting untuk mencegah terjadinya gesekan antar mahasiswa. Para pembantu rektor bisa saling mengomunikasikan strategi dan menghimpun para aktivis mahasiswa. ”Selama ini kalau sudah berbicara suku maka konfliknya bisa meluas antar perguruan tinggi,” kata dia.
Sebab biasanya mahasiswa akan saling berkoordinasi antar kelompok mereka jika ada satu anggota yang diusik. Dan ini menurutnya sangat berbahaya jika tidak segera dicarikan solusinya. Beberapa waktu lalu saja terjadi sejumlah konflik yang melibatkan beberapa suku.
Selain Suko, hadir pula dalam seminar kemarin guru besar fakultas Ekomomi UM, Prof Dr Bambang Banu. Dalam paparannya ia mengungkap kebijakan pemerintah dalam bidang perekonomian seringkali bertentangan dengan karakter bangsa. Ia mencontohkan salah satu undang-undang mengenai koperasi yang terbaru justru mengarahkan ciri kekuatan ekonomi rakyat Indonesia menuju arah liberalisme dan kapitalisme.
”Kebijakan pemerintah seringkali bertentangan dengan semangat Pancasila, contohnya saja kebijakan mengenai organisasi koperasi di Indonesia,” kata dia. UU nomor 17 tahun 2012 tentang perkoperasian misalnya. Menurut dia tidak sesuai dengan semangat bangsa Indonesia dalam rangka pemberdayaan ekonomi rakyat kecil. (oci/eno)