Hemat Biaya, IBU Berlakukan KKN Berbasis Potensi

MALANG - IKIP Budi Utomo (IBU) menyederhanakan sejumlah kegiatannya untuk mewujudkan layanan pendidikan tinggi yang terjangkau bagi mahasiswa. Salah satunya adalah melalui program kuliah kerja nyata (KKN) portofolio. Dimana mahasiswa bisa melaksanakan KKN dimana pun tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
“Kalau ada yang pulang kampung lalu menjadi ketua Karang Taruna atau mengabdikan diri di kampung halamannya maka itu sudah kami anggap melakukan KKN,” ungkap Rektor IBU, Drs Nurcholis Sunuyeko M.Si kepada Malang Post.
Program ini diberi nama KKN Pengabdian Masyarakat berbasis Potensi (PMBP). Apa pun potensi yang dimiliki mahasiswa bisa diabdikan baik itu potensi akademik dan non akademik. Model KKN ini sudah diterapkan IBU sejak dua tahun lalu. Setelah mencapai satuan kredit semester (SKS) tertentu mahasiswa diperbolehkan mengambil mata kuliah KKN PMBP ini di lokasi yang diinginkan.
Bahkan bisa dilaksanakan sekaligus ketika mahasiswa melaksanakan program praktik lapangan (PPL). Setelah melaksanakan pengabdian, mahasiswa wajib menuliskannya dalam bentuk portofolio. Lembar portofolio itu wajib diketahui pejabat atau tokoh berwenang misalnya takmir masjid, lurah dan sebagainya.
Ia mencontohkan ada beberapa mahasiswa di fakultas olahraga yang melakukan KKN dengan cara melatih sepak bola pada anak-anak di desanya. ”Model seperti ini lebih efisien dan tidak membebani mahasiswa,” tegasnya.
Ia berpendapat KKN tersebut juga bisa melatih mahasiswa untuk terbiasa berlaku jujur. Mereka mendapatkan kebebasan untuk melaksanakan program wajib akademik sesuai dengan bakat masing-masing namun tetap harus jujur dalam menuliskannya.
”Di akhir program kami akan melakukan verifikasi apakah benar-benar program KKN dilaksanakan di daerahnya,” tegasnya.
Cholis menambahkan KKN pada prinsipnya adalah kegiatan pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Meski masing-masing perguruan tinggi dibebaskan untuk memformulasikan model pelaksanaannya, namun menurutnya KKN tetap harus dilaksanakan di lapangan. ”Saya tidak setuju kalau KKN diganti dengan mata kuliah saja, tetap harus ada kegiatan yang bersentuhan dengan masyarakat,” pungkasnya. (oci/eno)