Teater Hampa Pentaskan Semar Sowan Bumi

MALANG- Sebagai bentuk keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan, Selasa (27/11) lalu Teater Hampa Indonesia menggelar pementasan teater bertajuk Semar Sowan Bumi. Pertunjukan tersebut mengisahkan mengenai dua sifat manusia yakni ingin menghancurkan alam demi keuntungan pribadi dan manusia yang ingin melindungi eksistensi alam.
Tokoh sentral dalam cerita ini adalah tokoh punakawan seperti Gareng, Petruk, dan Bagong. Sedangkan punakawan lainnya yakni Semar digambarkan sebagai sosok Bathara. Di babak awal, seorang pejabat daerah  bersikukuh tidak mau meninggalkan wilayahnya karena ingin melindungi hutan. Namun sayangnya, pemikiran kepala daerah tersebut tidak sejalan dengan keinginan istrinya yang ingin merusak hutan.
Di babak kedua, keluarlah sosok Semar dan siluet Bagong yang mengeluhkan banyaknya hutan lindung yang rusak. Selanjutnya muncul penebang yang akan menebang hutan lindung. Tetapi terjadi konflik di sini karena penebang tidak mau merusak hutan karena ingin melindungi hutan. Sosok Semar muncul sebagai penengah dari semua konflik.
Pertunjukan teater tersebut digelar di Gedung Sasana Budaya dan disaksikan sekitar 400 penonton. Menurut sutradara pementasan ini, cerita ini diambil sebagai wujud keprihatinan terhadap kerusakan hutan.  “Kami prihatin dengan kesadaran lingkungan yang semakin rendah. Kami menulis sendiri naskah ini,” ujar Safdella Afrianto. Dikatakannya, dengan konsep lingkungan yang dipadukan dengan naskah lokal akan membuat penonton merasa dekat dengan cerita yang dipentaskan.
Dari segi tata panggung, UKM teater milik UM ini menampilkan tata lampu yang artistic. Properti yang digunakan adalah gelonggongan kayu yang menggambarkan suasana hutan yang rusak. “Ceritanya cukup bagus. Pesan yang ingin disampaikan sudah tersampaikan di dialognya,” ujar Rizky Wahyu salah seorang penonton. (nin/eno)