Mengajar di Dua Sekolah dan Ajari Anjal Berteater

MALANG - Komunitas Mahasiswa Bidikmisi (Komadiksi) Universitas Negeri Malang (UM) melakukan pengabdian kepada masyarakat melalui program Komadiksi UM Mengajar. Dalam kegiatan ini mereka sekaligus mengenalkan kepada masyarakat bahwa kuliah di perguruan tinggi bukan sekadar mimpi bagi orang-orang tidak mampu.
Menurut Ketua Umum Komadiksi UM, Sahrul Romadon, mereka mengajar di dua lembaga sekolah, dan di komunitas masyarakat. Tidak hanya mengenalkan pembelajaran formal saja, mereka juga mengajarkan teater kepada anak-anak jalanan (Anjal).
”Anak-anak jalanan minta pembelajaran yang beda, mereka rupanya ingin belajar bermain teater,” kata Sahrul.
Teater itu mereka namai teater alun-alun. Sesuai dengan tempat latihan digelar. Di akhir kegiatan rencananya akan ada pementasan teater oleh anak-anak jalanan itu. Komadiksi juga memberikan keterampilan kepada anak-anak panti asuhan Muhammadiyah di kawasan Bareng Kota Malang. Selain itu kegiatan Komadiksi mengajar juga dilaksanakan di daerah padat penduduk yaitu di kawasan jalan IR Rais. Pelaksanaannya ditempatkan di rumah Ketua RT dengan waktu pembelajaran dua kali dalam satu minggu.
Mengabdikan ilmu kepada masyarakat yang kurang beruntung dilakukan dengan suka rela oleh mahasiswa penerima bidikmisi UM ini. Bagaimana pun mereka memang harus bersyukur karena bisa menikmati bangku pendidikan tinggi tanpa harus mengeluarkan biaya apa pun. Sebagai ungkapan syukur, mereka pun menggelar kegiatan pengabdian masyarakat itu.
Mengabdi bersama Anak Bangsa Demi Gapai Asa, tema itulah yang diangkat dalam kegiatan tersebut.
”Kegiatan ini dilaksanakan dengan dukungan dana sukarela dari anggota, setiap bulan uang biaya hidup kami sisihkan untuk bisa melaksanakan kegiatan pengabdian ini,” kata dia.
Sahrul adalah anak seorang buruh tani asal Jombang.
Tanpa beasiswa bidikmisi ia mengaku tidak akan bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Sebagai penerima beasiswa angkatan pertama ia merasa sangat beruntung. Apalagi di kampung halamannya ia menjadi orang pertama yang bisa menikmati studi di perguruan tinggi. Hal serupa juga dialami Heni Yulia asal Magetan. Selepas SMA, biasanya teman-teman perempuannya banyak yang bekerja ke luar negeri sebagai tenaga kerja wanita (TKW).
”Orang tua saya juga hanya buruh tani, kalau tidak dapat bidikmisi saya mungkin tidak bisa kuliah di UM,” ujar Heni. (oci/adv)