ITN Jadi Tuan Rumah Kongres IMTLI

MALANG - ITN Malang menjadi tuan rumah kongres ke 7 Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia (IMTLI). Pembukaan kongres dilaksanakan Kamis (29/11) di Aula Kampus 1 ITN Malang, kemarin.
Rektor ITN Malang, Soeparno Djiwo MT dalam sambutannya berharap kongres yang akan dilaksanakan tiga hari di Malang ini bisa menghasilkan gerakan nyata terkait masalah lingkungan.
”Saya berharap kongres ini tidak hanya menjadi ajang konsolidasi saja, tetapi harus ada komitmen gerakan untuk lingkungan,” ungkapnya saat membuka acara kemarin.
Permasalahan lingkungan katanya, menjadi masalah yang berat saat ini. Karena itulah menjadi tantangan bagi mahasiswa teknik lingkungan untuk mengatasinya. Hal senada diungkapkan wakil Dekan III Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN, Gatot Adi Susilo. Menurutnya permasalahan global telah terjadi dan teknik lingkungan menjadi ujung tombaknya.
Kongres ke 7 ini diikuti sedikitnya 23 PTN/PTS se Indonesia. Dengan perkiraan peserta yang akan hadir sebanyak 115 orang. Pada pembukaan kemarin sejumlah perguruan tinggi yang telah hadir di antaranya dari ITB, Universitas Trisakti, Undip, Universitas Mulawarman, UPN Yogya, USM Aceh.
”Ini adalah kali kedua ITN menjadi tuan rumah kongres mahasiswa teknik lingkungan,” ujar Ketua Panitia, Dandi Rangga.
Dalam pembukaan kongres kemarin juga digelar seminar yang menghadirkan sejumlah pembicara di antaranya pakar teknik lingkungan ITN, Sudiro ST MT, Badan Lingkungan Hidup Kota Malang, serta Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Malang.
Sudiro membawakan materi tentang pentingnya tindakan pencegahan rusaknya rencana tata ruang. Implementasi Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) menurutnya sangat efektif dalam upaya preventif perusakan lingkungan.
”KLHS ini bermanfaat untuk mengendalikan dan menjaga daya dukung dan daya tampung lingkungan akibat pembangunan,” kata dia.
KLHS lanjutnya baru trend pada 2010 lalu. Rekayasa kebijakan menjadi salah satu solusi yang bisa dilakukan melalui hasil KLHS jika terjadi perubahan tata ruang yang tidak sesuai. Misalnya di Kota Malang yang sempat ramai adalah perubahan area pendidikan menjadi mall yang seharusnya dibarengi dengan rekayasa kebijakan agar peruntukkannya tidak mengganggu lingkungan. Misalnya saja melarang siswa sekolah berseragam masuk mall pada jam sekolah dan kebijakan lainnya.
Ketua Jurusan Teknik Lngkungan, Candra Dwi Ratna menuturkan jurusan Teknik Lingkungan memiliki empat konsentrasi yaitu pengelolaan air bersih, limbah cair, sampah dan managemen. Sejumlah kegiatan peduli lingkungan yang sudah dilakukan diantaranya seminar dan aksi damai menyelamatkan bumi, edukasi sanitasi, pengelolaan sampah dan reboisasi. (oci/sir/eno)