Main Tangan, Sobek Buku, Guru Didemo Walimurid

MALANG - Memperingati hari guru ke-67, dunia pendidikan Kota Malang, justru tercoreng, akibat oknum guru yang melakukan kekerasan di sekolah. Kemarin (29/11), puluhan wali murid SDN Tulusrejo 4 Kecamatan Lowokwaru, mendatangi sekolah.
Mereka memprotes tindakan kekerasan yang dilakukan, Djarno Teguh Prasetyo, guru kelas III.
‘’Saya tidak terima anak-anak mendapat perlakukan seperti ini. Anak-anak menjadi malas ke sekolah,’’ ujar Ny Bambang salah seorang walimurid, dengan nada tinggi.  
Ia menuturkan, murid kelas III kerap dipukul dengan penggaris kayu. Tak jarang guru yang biasa dipanggil Teguh itu juga menampar muridnya.
Bukan hanya itu, beberapa waktu lalu, saat siswa kelas III mengikuti ulangan, siswa yang belum menyelesaikan ulangan tepat waktu bukunya disobek.
‘’Sebelumnya guru itu sudah pernah diadukan, tetapi tetap tidak ada perubahan sikap,’’ ujarnya sambil menunjukkan buku ulangan siswa yang disobek.
Ia menuturkan, ketika siswa melakukan kesalahan kecil, Teguh tak segan-segan menghukum dengan cara kekerasan.  ‘’Kami tidak ingin guru tersebut tetap mengajar di SDN Tulusrejo 4. Anak-anak menjadi trauma dan tidak mau sekolah,’’ ujar Ny Bambang.
Beberapa murid juga mengaku sering mendapatkan perlakuan keras. ‘’Saya pernah dipukul memakai penggaris kayu di kaki saya. Rasanya sakit, saya jadi takut ke sekolah,’’ ujar salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya.
Siswa lainnya, juga merasakan kekerasan yang dilakukan guru yang baru empat bulan dimutasi di SDN Tulusrejo 4 ini. ‘’Saya juga pernah dipukul dengan penggaris. Kalau tidak bisa menjawab pertanyaan, dipukul,’’ ujar siswa lainnya.
Terpisah, Teguh justru menganggap apa yang dilakukan adalah bentuk pembelajaran. Justru dia menganggap murid-muridnya tidak bisa diberi pengertian.
‘’Saya mengajar tidak kurang-kurang. Tapi memang anak-anak sulit sekali diberi pengertian. Saya melakukannya demi pembelajaran anak-anak,’’ ujarnya kepada Malang Post.
Tapi dia menyangkal melakukan pemukulan dan aksi kekerasan.  ‘’Kalau memang siswa tersebut ingin pindah, silakan. Sekolah sudah siap mengeluarkan surat pindah,’’ ujarnya.
Mengenai penyobekan buku ulangan yang ditunjukkan walimurid, Teguh tidak menyangkal. Informasi yang dihimpun Malang Post, ada lima buku ulangan milik siswa yang disobek Teguh.
‘’Kalau menyobek buku ulangan, saya akui saya memang khilaf. Tetapi pada saat itu, sebelum ulangan sudah saya beritahu harus mengerjakan tepat waktu. Kelima siswa tersebut belum selesai,’’ jelasnya.  
Ia merobek buku tersebut agar orangtua tahu bahwa anak mereka tidak menjalankan tugas dengan baik. ‘’Saya siap menerima konsekuensinya,’’ katanya.
Sementara itu Kepala SDN Tulusrejo 4, Mardiati, mengaku sudah melaporkan ke Dikbud Kota Malang. ‘’Sudah saya laporkan ke UPT Lowokwaru melalui Bu Ida Ayu dan Pak Samsul,’’ ujarnya.
Dikatakannya, upaya tersebut sudah sesuai prosedur. ‘’Pak Teguh juga masih baru mengajar di SD ini. Jadi saya belum tahu secara detail mengajarnya bagaimana. Beberapa waktu lalu saya supervisi, beliau mengajarnya baik,’’ katanya.
Menurutnya, apa yang dilakukan salah satu guru di SDN Tulusrejo 4 di luar kendalinya. ‘’Terlepas dari profesinya sebagai guru, ia juga seorang manusia yang bisa melakukan kesalahan,’’ katanya.
Kendati memaklumi tindakan Teguh, Mardiati mengaku tetap melaksanakan proses seperti prosedur. ‘’Prosesnya tetap berjalan sesuai aturan kepegawaian. Kami juga tidak ingin kasus ini menjadi contoh bagi sekolah lainnya. Jika memang mendapat sanksi, harus dijalankan. Entah itu mutasi atau diistirahatkan, biar Dikbud yang menyelesaikan,’’ pungkasnya. (nin/avi)