Porsi Pendidikan Olah Raga Minim

MALANG - Universitas Negeri Malang (UM) kini memiliki guru besar olahraga yang pertama, yakni Prof Dr H.M.E. Winarno M.Pd. Pengukuhan gelar guru besarnya dilaksanakan kemarin dalam sidang senat terbuka UM bersama dengan guru besar dari FMIPA, Prof Dr Ir Suhadi M.Si.
Dalam pidato ilmiahnya, Wakil Dekan 1 Fakultas Ilmu Olahraga (FIK) UM ini mengungkap tentang minimnya porsi pendidikan olahraga di sekolah maupun pendidikan tinggi. Padahal pendidikan dan jasmani dan rohani memiliki peranan penting dalam pengembangan karakter bangsa.
“Selama ini pendidikan baru mementingkan aspek kognitif saja, tapi aspek afektif dan psikomotorik belum menjadi hal utama,” ungkapnya.
Bapak dua putra ini merinci, dari sekitar 26-28 jam pelajaran, hanya 4-6 jam per minggu untuk kegiatan gymnastik. Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) kata dia, belum imbang karena hanya mementingkan kemampuan baca, tulis dan hitung. Karena itu menurutnya kurikulum pendidikan tinggi sangat perlu ditata ulang. Sehingga karakter anak bisa terbentuk dengan baik. Sebab tantangan arus globalisasi cukup berat, mulai dari game online yang sarat dengan permainan kekerasan, dan hal lainnya.
”Sekarang ini karakter jujur, disiplin dan toleransi memudar,” kata dia. Ditegaskannya, pilar-pilar karakter bisa ditemukan dalam kegiatan olahraga. Sebab pengembangan karakter tidak bisa hanya melalui materi saja, tetapi harus ada aktivitas dan pembiasaan.
”Olahraga mengajarkan kejujuran, toleransi, kerjasama dan disiplin. Kalau sepakbola aturannya dilaksanakan 90 menit tiap babak maka semua peserta harus mematuhi,” kata dia.
Implementasinya di perguruan tinggi, lanjutnya bisa dilakukan dengan mengagendakan hari khusus untuk kegiatan olahraga. Misalnya saja hari Senin hingga Jum’at adalah agenda untuk pembelajaran, maka pada hari Sabtu dimanfaatkan untuk kegiatan olahraga maupun seni. Kegiatan hari Sabtu sebagai hari Krida untuk pengembangan diri mahasiswa jika dilaksanakan di UM akan melibatkan 5-6 ribu mahasiswa. Keuntungannya adalah para mahasiswa yang berbakat di bidang olahraga akan terdeteksi, kebugaran bisa terjamin dan prestasi akademik non akademik akan mengikuti.
”Karena dilakukan bersama-sama maka kebersamaan bisa terjalin antar mahasiswa, dan karena mereka sudah sibuk kegiatan tidak akan ada tawuran antar pelajar,” pungkasnya.(oci/eno)