UM Didik Tujuh Mahasiswa Teluk Bintani

MALANG - Tujuh putra Papua tepatnya dari Kabupaten Teluk Bintuni akan belajar selama empat tahun di Universitas Negeri Malang (UM). Mereka mengemban misi untuk menjadi guru MIPA yang jumlahnya masih sangat minim di daerah mereka.
Salah satu dari mereka yakni Melianus, alumnus SMAN Babo Teluk Bintuni terlihat asyik menikmati makan siangnya di lobi rektorat UM kemarin. Ia bersama enam rekannya akan memulai studi di Fakultas MIPA UM dalam program kerjasama antara UM dan Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni. Sedangkan penandatanganan naskah kerjasama dilaksanakan kemarin.
“Kami siap untuk belajar di UM walau pun mungkin harus melakukan banyak penyesuaian seperti masalah bahasa,” ungkap Melianus.
Karena hanya diberi waktu untuk belajar maksimal lima tahun, ia berusaha untuk belajar sungguh-sungguh. Jika sampai molor maka keluarganya yang harus menanggung biaya studinya.
Melianus dan enam rekannya adalah SDM yang sangat dibutuhkan oleh Pemkab Bintuni. Sebab daerah yang termasuk tertinggal itu kekurangan guru MIPA. Dari data yang dihimpun Pemkab Bintuni disebutkan kekurangan guru MIPA mencapai 120 orang.
Bupati Teluk Bintuni, Alfons Manibui menuturkan karena minimnya SDM bidang MIPA ini maka pemerintah menargetkan dalam tiga tahun ke depan kebutuhannya bisa terpenuhi.
”Kalau untuk pendanaan kami tidak ada masalah namun yang menjadi masalah adalah SDM yang kompeten pada bidang MIPA sangat sulit ditemui,” kata dia.
Karena minimnya guru MIPA dan juga tingkat kehidupan masyarakat yang belum maju maka tidak banyak anak yang mampu masuk jurusan IPA. Karena itulah kerjasama dengan UM ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas pendidikan di Bintuni.
Sementara itu Rektor UM Prof Dr H Suparno dalam sambutannya menegaskan selain kerjasama bidang pendidikan, UM juga siap menyupport tenaga guru dalam program sarjana mengabdi di daerah tertinggal (SM3T). Program ini dikelola oleh Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) bersama sejumlah lembaga pendidik tenaga kependidikan (LPTK).(oci/eno)