Alat Pembelajaran di SMAN 7 Ditempeli Barcode


MALANG – Kalau berkunjung ke SMAN 7 Malang, jangan kaget melihat banyak tumbuhan yang ditempeli barcode. Sebab, data optik yang dibaca dengan mesin ini sengaja ditempelkan untuk menunjang proses belajar. SMAN 7 Malang mengaplikasikan sistim Barcode-isasi untuk belajar menghafal dan mempelajari lingkungan sekolah.
Aplikasi ini dicetuskan oleh Kepala SMAN 7 Malang, Drs. Supriyadi, MS, yang kemudian didukung oleh seluruh pihak sekolah.
“Melalui metode ini, siswa akan lebih mudah untuk menghafal dengan menyenangkan tanpa harus membuka buku atau catatan manual,” ujar Supriyono.
Supriyono menjelaskan prosedur untuk menggunakan metode ini, yaitu dengan melekatkan Barcode di setiap jenis benda yang ada di sekitar lingkungan sekolah, misalkan tumbuh-tumbuhan, barang-barang kesenian, atau peralatan lain yang mendukung proses praktikum pembelajaran.
“Sistim barcode bisa diunduh melalui playstore yang ada di smartphone,” jelas Supriyono.
Ia mengatakan, jika barcode ini dilekatkan maka siswa bisa scan sistim barcode ini, yang kemudian akan muncul materi-materi yang berkaitan dengan barcode yang tertempel.
“Kita menempelkan barcode ini secara berkelanjutan nantinya, jika ada benda baru atau materi baru yang akan diletakkan di lingkungan sekolah akan ditempelkan barcode ini,” ujar Supriyono lebih  lanjut.
“Tidak hanya itu, kita juga akan terus memperbarui informasi melalui internet secara otomatis, informasi tidak paten anak-anak akan up to date untuk soal materi di sekolah,” jelas Supriyono.
Sistim pembelajaran yang dilakukan melalui barcode ini, ternyata juga memberikan manfaat bagi siswa dan juga guru. Menurut Supriyono, manfaat yang didapatkan oleh siswa adalah bisa memanfaatkan smartphone yang mereka bawa ke sekolah dengan baik. Dan keuntungan bagi guru adalah bisa lebih praktis dalam mengajar.
“Bukan mengajarkan siswa untuk malas membuka buku, tapi memanfaatkan teknologi dan juga berpikir cepat,” ucap Dwi Iriyani, Mpd, staff pengajar Sosiologi.
Dwi juga mengatakan jika ia sebagai guru merasa sistim barcode yang dilaksanakan sejak semester lalu ini membantu pembelajaran lebih praktis tapi tetap bisa up to date, tanpa harus menunggu cetakan buku pegangan baru, dan mendidik siswa untuk inovatif. (mgb/oci)