Beda antara Jalur Wilayah dan Reguler


TARGET BEDA: Passing grade jalur wilayah yang lebih rendah dibandingkan reguler tidak bisa disamakan. (DICKY BISINGLASI/ Malang Post)

MALANG - Kekhawatiran kepala sekolah favorit terkait menurunnya passing grade akibat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jalur wilayah, tidak perlu berlarut-larut. Kasie Kurikulum Dinas Pendidikan Menengah (Dikmen) Kota Malang Budiono menegaskan, antara jalur wilayah dan jalur reguler memiliki pakem yang berbeda. Sehingga, rendahnya passing grade jalur wilayah tidak berbanding lurus dengan rendahnya passing grade sekolah secara umum.
“Ketentuannya berbeda, lahan perangnya beda, tidak bisa disamakan,” ujarnya kepada Malang Post. Tinggi rendahnya nilai passing grade melalui jalur wilayah, tidak bisa menjadi patokan umum untuk jalur reguler. Pasalnya, kedua jalur tersebut memiliki segmen berbeda. “Tidak bisa dipukul rata, jangan mentang-mentang passing grade wilayah rendah lalu dijadikan patokan passing grade reguler juga akan segitu, beda,” tegasnya.
Ia mengatakan, jalur wilayah mengambil nilai tertinggi dan terendah berdasarkan lingkungan sekitar sekolah. Tentu ini berbeda dengan jalur reguler, yang mengambil nilai tertinggi dan terendah dari persaingan seluruh siswa di Kota Malang.
“Kita lihat besok (hari ini), bisa jadi passing grade wilayah lebih rendah, atau malah lebih tinggi dari pada reguler,” terangnya. Sebab, lanjut Budi, tidak sedikit pula siswa dengan nilai tinggi mendaftar melalui jalur wilayah. Budi menjelaskan, kebijakan jalur wilayah sekaligus memberi kesempatan bagi siswa asal luar Kota Malang untuk bertarung PPDB melalui jalur reguler.
“Kalau belum ada wilayah, daya persaingan lebih ketat, dengan semua siswa di Kota Malang. Adanya jalur wilayah membuat saingan mereka semakin sedikit,” jelasnya.
Berbeda dengan tahun lalu, kuota untuk siswa asal luar kota dari masing-masing sekolah hanya sebanyak lima persen, di tahun ajaran baru ini. Senada dengan Budi, Kepala SMAN 1 Kota Malang, ‎H. Musoddaqul Umam, S.Pd mengatakan, perang jalur reguler dan wilayah jelas berbeda. Oleh karena itu, passing grade dari masing-masing jalur tidak bisa dijadikan penentu. “Kalau jalur reguler dengan mengacu tahun lalu bisa jadi, kalau dengan wilayah tidak bisa,” jelasnya.
Di SMAN 1, passing grade dari nilai terendah adalah 77.87 sedangkan untuk nilai tertinggi 93.94. Dibandingkan dengan passing grade jalur reguler, hingga kemarin sore nilai terendah sudah mencapai 81.75 dan nilai tertinggi 95.90. “Angka tersebut bisa jadi semakin bertambah hingga besok (hari ini),” terangnya.
Sedangkan berdasarkan data tahun lalu, passing grade dengan nilai terendah di SMAN 1 adalah 88.50 dan nilai tertinggi 95.95. Selain itu, lanjut Mus, dari data tersebut memaparkan jika tinggi rendahnya passing grade jalur wilayah tidak bisa menjadi acuan untuk jalur reguler, sekalipun untuk perbandingan dengan tahun lalu.
Tak hanya Mus saja, Kepala SMAN 4 Kota Malang, Budi Prasetyo Utomo, S.Pd, M.Pd juga mengatakan hal serupa. “Dari passing grade wilayah akan sulit menentukan reguler, justru prediksi saya nilai tinggi ada di reguler,” jelasnya.
Budi mencoba menganalisa, banyak anak dengan nilai tinggi merasa tidak sesuai dengan pilihan sekolah yang sesuai wilayahnya. Sehingga, mereka mencoba peruntungan di jalur reguler. “Ini menjadi kesempatan bagi nilai rendah dan berada di lingkungan sekitar sekolah, supaya bisa tertampung melalui jalur wilayah,” tukasnya.
Pernyataan Budi terbukti melalui data passing grade terendah di SMAN 4 Kota Malang dari jalur wilayah adalah sebesar 75.57, sedangkan nilai tertinggi 88.44. Dibandingkan dengan jalur reguler, hingga kemarin sore nilai terendah adalah 59.37, sedangkan nilai tertinggi adalah 94.14. Angka tersebut akan terus bergerak hingga batas waktu pendaftaran jalur reguler ditutup. Sementara passing grade tahun lalu, untuk nilai terendah adalah 85.55 dan nilai tertinggi adalah 92.25.(nia/han)