Biaya Sertifikasi ASEAN Mahal, UB Tak Mau Ngoyo


MALANG - Meskipun beberapa Program Studi (PS) Universitas Brawijaya (UB) berlomba-lomba meraih sertifikasi tingkat ASEAN di tahun 2016, melalui ASEAN University Network Quality Assurance (AUN-QA), rupanya Rektor UB, Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS mengaku tak ingin ngoyo. Ia tidak menargetkan PS lain agar melakukan hal serupa. Sebab, biaya untuk mendapat sertifikasi tersebut cukup tinggi.
“Sudah banyak PTN (Perguruan Tinggi Negeri) lain yang pakai AUN-QA. Cuman nanti kalau di UB tidak semua PS yang di AUN-QA, bisa bangkrut kita,” ujarnya.
Bisri menjabarkan, saat ini UB memiliki 150 PS. Apabila keseluruhan PS tersebut maju mendapat AUN-QA, pria yang juga menjadi guru besar di Fakultas Teknik (FT) UB tersebut, mengaku tidak sanggup.
“Karena mulai dari proses pengisian borang, pendampingan, belum lagi membayar Asesor, semuanya cukup mahal,” tukasnya.
Tak hanya itu, proses pemeliharaan mempertahankan sertifikasi AUN-QA juga cukup memakan biaya.
Meski demikian, Bisri merasa UB perlu mengantongi akreditasi ASEAN tersebut. Demi mewujudkan cita-cita institusi menjadi world class university. Oleh karena itu, ia hanya menargetkan dua hingga tiga PS dalam fakultas, yang mendapat sertifikasi akreditasi dari AUN-QA.
Bagi PS yang sudah mendapat akreditasi tersebut, Bisri mengimbau agar mengimbaskan pengalaman dan informasi yang telah mereka dapat ke PS lain dalam satu fakultas. “Nanti sistem itu bisa ditiru untuk PS lainnya, sehingga kita bisa lebih bagus, karena memang proses mendapat akreditasi ini bagus sekali,” terangnya.
Bisri menjelaskan, standar yang diterapkan AUN-QA lebih kompleks ketimbang BAN-PT. Ia memaparkan, proses penilaian AUN-QA lebih pada proses, sedangkan BAN-PT cenderung mengarah pada output.
“Misalkan proses pembelajaran seperti apa, mulai dari kurikulum, kemudian metode pembelajaran bagaimana, tidak berbasis pada output angka tapi proses, sehingga ini bagus kalau diterapkan,” bebernya.
Bisri menjelaskan, borang penilaian AUN-QA juga lebih banyak. Menyangkut ke beberapa komponen, seperti keamanan gedung, bagaimana proses evakuasi saat kebakaran.
Sementara itu, ketua Pusat Jaminan Mutu (PJM) UB, Ir. Achmad Wicaksono, M.Eng, Ph.D membenarkan mahalnya biaya memproses sertifikasi AUN-QA. Soni, sapaan akrab, mengatakan mulai dari persiapan hingga visitasi membutuhkan biaya sebesar Rp 150 juta.
“Memang cukup besar biaya untuk mendapat sertifikasi AUN-QA,” urainya kepada Malang Post. (nia/oci)