Birokasi Hambat Kedatangan Mahasiswa Asing


MALANG - Perguruan Tinggi (PT) tahun ini berlomba-lomba untuk mendapat status world class university. Salah satu upaya untuk mewujudkan hal itu adalah dengan membuka diri dengan mahasiswa asing.
Adhrial Refaddin, Kasi Kerjasama Luar Negeri Direktorat Jenderal kelembagaan, Kementrian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek-Dikti) menuturkan, selama ini PT masih sering mempersulit birokrasi akademik para mahasiswa asing.
“Birokrasi jangan bertele-tele, kalau bisa cepat kenapa harus lambat?” tegasnya.
Adhri juga menjelaskan, berkaca dari keluhan beberapa PT, ada empat point kesulitan yang dialami PT dalam merekrut mahasiswa asing. Seperti kendala bahasa, sumber daya manusia yang menangani, keimigrasian dan masih minimnya keinginan atau minat PT dalam menganggarkan dana yang cukup untuk melakukan promosi.
Solusinya, Adhri mengimbau kepada PT untuk mempunyai strategic positioning yang bagus. “Semua sivitas akademik digandeng, yang belum bisa berbahasa asing, dilatih, termasuk pelayanan yang ramah juga,” tegasnya.
Tak hanya itu, untuk dapat menjaring mahasiswa asing mau melanjutkan pendidikan di Indonesia, terutama Kota Malang, masing-masing instansi harus melakukan persuasif ke ranah Internasional, apabila Indonesia adalah negara yang aman. “Ini tadi yang saya bilang, jangan ragu untuk meningkatkan promosi, bahkan ke luar negeri,” tegasnya.
Rektor Universitas Negeri Malang (UM) mengatakan, Prof. Dr. AH. Rofi'uddin, M.Pd menjelaskan, kedatangan mahasiswa asing, sebenarnya dapat memperkokoh sistem yang ada di masing-masing PT.
“Tinggal masalahnya bagaimana kita meningkatkan kenyamanan dan kehangatan disini,” ujarnya. Bagi Rofi‘, hal yang tidak mudah adalah mengelola tempat tinggal para mahasiswa asing. Sebagian besar dari mereka, meminta tinggal di asrama.
“Untuk itu yang kita belum siap, yang banyak terjadi di kita banyak kita titipkan di keluarga,” katanya. Namun, masing-masing mahasiswa asing hanya boleh tinggal di rumah satu keluarga saja. Oleh karena itu, UM telah bermitra dengan keluarga di sekitar kampus, hingga mencapai 100 rumah tangga. (nia/oci)