Calon Kepala Sekolah Diseleksi Ketat


MALANG - Sebanyak 36 kepala sekolah dan calon kepala sekolah dari lembaga pendidikan di bawah kordinasi Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan Malang mengikuti seleksi calon kepala sekolah bersertifikat. Seleksi dilakukan guna mendapatkan calon kepala sekolah yang kapabel dan berintegritas. Kepala sekolah akan diakui kompetensinya jika lulus dari seleksi dengan mendapatkan Nomor Unik Kepala Sekolah (NUKS). Ujian seleksi dilakukan oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dan ditinjau langsung oleh Lembaga Pengembangan Dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LP2KS). LP2KS yang akan memberikan NUKS pada peserta yang lulus.
“Kami dari LP2KS Solo datang ke sini bukan sebagai Asesor tapi untuk memastikan pelaksanaan seleksi ini sudah sesuai dengan SOP,” ujar Djoko Subandriyo, Peninjau dari LP2KS.
Ujian seleksi yang digelar di Aula Khalwat Bethlehem Jedong Kecamatan Wagir Kabupaten Malang ini dilaksanakan oleh LP2KS bekerja sama dengan LPMP. Teknis pelaksanaan secara keseluruhan ditangani langsung oleh LPMP. Pada pelaksanaan seleksi serupa di sekolah seluruh Indonesia, LP2KS juga bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain, seperti FKIP dan LPTK.
“Karena tidak mungkin kami bekerja sendiri dalam menyeleksi calon kepala sekolah seluruh Indonesia,” tambahnya.
Djoko menerangkan, seleksi dilakukan sebagai upaya peningkatan mutu kepala sekolah. Kedepannya kepala sekolah harus memenuhi standar kompetensi sesuai yang tercantum dalam Permendiknas Nomor 13 tahun 2007. Dimana pemerintah menerbitkan peraturan menteri nomor 28 tahun 2010 tentang penugasan guru sebagai calon kepala sekolah atau madrasah. Orientasinya pada penilaian kinerja kepala sekolah dan pengembangan keprofesional berkelanjutan.
Dalam permen tersebut, lanjut Djoko, disebutkan kepala sekolah harus memiliki sertifikat sebagai syarat untuk diangkat menjadi kepala sekolah. Pengangkatannya melalui penilaian kompetensi yang diawali dengan tes potensi.
“Jadi sekarang ini baru tes potensi belum kompetensi. Kami akan melihat di awal ini mereka ada potensi menjadi kepala sekolah apa tidak. Kalau ada selanjutkanya akan didiklat,” terangnya.
Ia memaparkan ada empat instrumen untuk mengukur potensi ini. Pertama untuk mengukur tingkat kekritisan kepala sekolah dalam menghadapi masalah yang mendesak. Kedua, kemampuan mengkritisi masalah. Ketiga mengukur kreativitas kepala sekolah dalam mengadapi masalah. Dan keempat menentukan masalah prioritas dan kemampuan kepemimpinan.
Masih kata Djoko, bagi peserta yang lulus tes potensi akan dilanjutkan pada tahap selanjutnya yakni tes kompetensi kepala sekolah sebanyak 300 JPL. Hal ini dibagi tiga tingkatan. 100 JPL pertama 70 persen in servis, 30 persen presentasi. Dan 200 JPL sisanya untuk magang di sekolah.
”Di beberapa tahun yang akan datang diharapkan semua kepala sekolah memiliki sertifikat. Dengan demikian kualitas mutu kepala sekolah itu sendiri dapat dipercaya. Karena kepala sekolah yang hebat akan bisa membuat guru-guru menjadi hebat. Dan guru yang hebat akan membuat siswa-siswinya hebat,” kata dia.
Sementara itu Ketua Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Malang, Fr. Dr. M. Monfoort, BHK, SE, M. Pd, MM, MH mengatakan pihaknya sebagai inisiator pelaksanaan kegiatan seleksi kepala sekolah dan calon kepala sekolah berharap sekolah-sekolah Katolik dipimpin oleh sosok yang bermutu dan berkualitas di berbagai bidang.
“Karena hasil tinjauan kami selama ini sekolah-sekolah yang bagus itu dipimpin oleh kepala sekolah yang bersertifikat dan memiliki NUKS,” ujarnya.
Meskipun sebagian peserta telah menjadi kepala sekolah, dengan mengikuti tes seleksi ini diharapkan juga menjadi parameter akan kemampuan masing-masing. Frater Mon, sapaan akrabnya, mengatakan sebelum diterima mengikuti tes tulis, calon peserta terlebih dahulu diseleksi secara administratif.  
“Ada lima belas item yang masuk kategori seleksi administrasi. Bagi yang berkasnya tidak lengkap maka tidak diterima untuk ikut tes. Dari 57 pendaftar hanya 36 yang kami terima karena yang lain tidak lulus administrasi,” kata dia. (imm/sir/oci)