Digembleng Dua Hari di Provinsi

PERSIAPAN: Husnul Khotimah, salah satu guru prestasi yang akan membawa nama Kota Malang ke Nasional. (ALFINIA PERMATA SARI/ Malang Post)

MALANG - Pembekalan guru prestasi wakil Kota Malang ke nasional sudah dimulai. Para srikandi yang menjadi juara umum guru prestasi tingkat provinsi, akan mendapat pembekalan terakhir dari provinsi selama dua hari terhitung semenjak hari ini dan besok.
Jianto, Kasie Fungsional Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Malang mengatakan, pembinaan oleh Dindik Provinsi akan ditangani langsung oleh guru besar dari sejumlah universitas negeri di Jawa Timur.
Jianto tidak mengetahui penempatan lokasi tinggal para guru prestasi wakil Kota Malang. Pasalnya, keseluruhan pelaksanaan kegiatan ditangani langsung oleh Dindik Provinsi.
“Semua ketentuan dari sana, karena akan maju jenjang nasional jadi yang menangani adalah pihak sana,” jelasnya.
Setelah dua hari menjalani pembinaan, para guru prestasi akan kembali lagi ke daerah masing-masing, guna mendapatkan binaan susulan dari Dindik setempat. Dari Kota Malang, lanjut Jianto, pembinaan sudah diberikan langsung oleh tim dari fungsional dan juga tim pengawas guru prestasi. Tak hanya itu, para alumni guru prestasi tahun lalu pun turut serta memberi paparan materi apa saja yang perlu dipelajari.
“Kalau dari Kota Malang lebih ke pemantapan yang kurang, seperti portofolio dan surat-surat yang kurang,” tuturnya.
Tak hanya soal materi pembuatan portofolio, wawasan pengetahuan umum para guru juga akan ditingkatkan.
“Guru tidak hanya menguasai mata pelajaran sesuai bidangnya saja, melainkan pengetahuan umum untuk mengantisipasi pertanyaan dari dewan juri,” sambungnya. Oleh karena itu, Jianto mengimbau kepada guru prestasi untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan umum mereka dengan banyak menambah referensi melalui bacaan.
Sementara itu, Dra. Husnul Chotimah, M.Pd, Kepala SMKN 13 yang menjadi juara satu guru prestasi tingkat kepala SMK itu menjelaskan, apabila pembinaan hari ini adalah yang terakhir. Namun ia menjelaskan tidak menutup kemungkinan ada pembinaan lagi, mengingat pelaksanaan kompetisi guru prestasi tingkat nasional berlangsung pada 12 hingga 19 Agustus 2016.
Ia menjelaskan, pembinaan pertama dilaksanakan pada tanggal 9 Juni 2016. Materi yang disampaikan pada pembinaan pertama seputar bagaimana cara mempersiapkan portofolio, karya tulis dan pembinaan mental dalam menghadapi pesaing.

Materi kedua yang dilaksanakan semenjak tanggal 27 Juni hingga 1 Juli 2016, membahas semua aspek, seperti penyusunan portofolio, pembuatan karya tulis ilmiah yang dibimbing langsung oleh Profesor, cara membuat materi video pembelajaran yang bagus, menghadapi psikotest dan juga pembekalan untuk ujian tulis.
Husnul menjadi juara pertama jenjang kepala SMK karena pembuatan Karya Tulis Ilmiah (KTI), dengan mengusung tema penelitian tentang tindakan sekolah. Adapun KTI nya diberi judul supervise terprogram melalui kegiatan lesson study berbasis sekolah, untuk meningkatkan kompetensi guru di SMKN 13 Kota Malang.
Penelitian tersebut membahas bagaimana cara meningkatkan kompetensi guru, sesuai dengan supervisi terprogram. Anggota supervisi tersebut terdiri dari Kepala Sekolah dan juga guru. Berdasarkan penjabaran Husnul, supervisi terprogram akan mengamati kinerja para guru.
Tidak hanya diamati, melainkan terus dikontrol hingga ada peningkatan mutu kualitas dari masing-masing guru.
“Tidak hanya melihat pada kuantitas, melainkan juga sampai kualitas guru,” jelasnya.
Dalam karya penulisannya, Husnul memaparkan, guru diminta dapat membuat tulisan tentang penilaian diri sendiri, mengenai refleksi diri.
Melalui lesson study, lanjut Husnul, kekompakan guru dapat semakin terbina. Masing-masing guru menyadari bahwa mereka memiliki kelebihan masing-masing. Selain itu tidak ada sekat antara guru senior dan junior.
“Konteksnya belajar bersama,” tegasnya.
Selain mengenali kelebihan, para guru juga akan mengenali kekurangan mereka masing-masing termasuk dalam cara mengajar. Tujuan dari karya ini, Husnul berharap agar guru dapat menginspirasi satu sama lain.
“Misalkan guru A mempunyai kelebihan mengajar menggunakan media yang mengasikkan dan menyenangkan, sehingga membuat anak-anak senang belajar, sedangkan guru B tidak, lalu guru B terinspirasi menggunakan metode belajar yang sama hingga anak-anak senang terhadap mata pelajaran yang diajarkan guru B tersebut,” terang Husnul.
Namun, materi tersebut tidak serta merta dicontoh seratus persen oleh guru lainnya. Guru tetap diberi keleluasaan dalam mengembangkan sekaligus mengkreasikan metode pembelajaran temannya. (nia/oci)