Gawat, Narsisme Beragama Makin Meluas


MATERI: Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nasrullah saat menjadi narasumber pada kegiatan Tadarus Pemikiran Islam kerjasama UMM dan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). (Foto ist)

MALANG - Agar lebih diterima masyarakat, Muhammadiyah perlu memperluas ranah dakwahnya dengan memberi perhatian khusus pada mobilitas dakwah virtual. Hal tersebut disampaikan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nasrullah saat menjadi narasumber pada kegiatan Tadarus Pemikiran Islam kerjasama UMM dan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), Kamis (30/6) di Auditorium UMM.
Dalam rilis Humas UMM, Nasrullah menilai, alasan mengapa ustadz-ustadz artis bisa lebih diterima di masyarakat, karena mereka menggunakan media-media populer yang mudah dijangkau. Namun, ia tetap memberi penekanan bahwa kerja media yang dilakukan Muhammadiyah harus tetap difungsikan sebagai media verifikator atas isu-isu provokasi yang dihadapi oleh persyarikatan.
Karenanya, Nasrullah menyayangkan sejumlah media mengatasnamakan Muhammadiyah yang cenderung provokatif.
”Media kita seharusnya tidak untuk memprovokasi, melainkan untuk mengklarifikasi. Inilah yang disebut sebagai jihad digital. Karena yang kita hadapi itu kekuatan-kekuatan digital yang sangat luar biasa,” ungkap Kepala Humas UMM ini.
Sementara itu Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi mengakui, media sangat penting sebagai bagian dari instrumen dakwah. Namun, ia lebih memberi titik tekan bahwa substansi dan konten dakwah juga perlu menjadi perhatian.
Syamsul mengaku resah dengan gaya narsisme atau keakuan yang berkembang dalam dunia sosial media. Terlebih, jika narsisme itu merambah pada pada wilayah agama yang mestinya merupakan ruang privat, dan tidak seharusnya dikonsumsi publik.
“Misalnya status yang menunjukkan bahwa ia sedang melakukan ibadah. Itu kan privat sekali,” tutur Guru Besar Fakultas Agama Islam UMM ini. (oci)