Gerakan Literasi Berantas Buta Aksara


MALANG – Membudayakan gerakan literasi di jenjang SD tantangannya cukup berat. Sebab, masih ada siswa yang belum lancar membaca terutama mereka yang masih duduk di kelas 1. Seperti terjadi di SDN Tunjung Sekar 1, masih ada beberapa siswa yang belum lancar membaca sehingga membutuhkan pendampingan dari guru.
“Jumlah total kelas 1 ada sekitar 90 siswa, yang belum bisa membaca dengan lancar ada 6 siswa,” ujar Retno Widyaningrum, Guru Kelas 1.
Ia mengatakan sejak pemerintah gencar menerapkan gerakan literasi, khusus bagi guru kelas 1 diwajibkan untuk bisa mendidik dan mengajari siswa yang belum bisa membaca dengan lancar sebisa mungkin tidak sampai buta aksara.
Pendampingan khusus menurutnya perlu dilakukan. Guru dituntut untuk telaten, jika tidak akan menambah jumlah buta aksara. Pendampingan dan pendekatan secara intensif terus dilakukannya. Biasanya, ia duduk di samping siswa ketika pelajaran membaca berlangsung.
“Kita harus mempunyai inisiatif untuk mendekati siswa karena psikologis anak usia segini mereka belum bisa mengatakan kalau mereka belum bisa membaca dengan lancar,” ujar Retno lagi.
Ia membenarkan, jika melalui metode pendampingan dan pendekatan siswanya bisa menunjukkan progress membaca dengan baik.
“Setelah tahun ajaran baru di kelas 1 yang baru ini, siswa yang belum bisa membaca dengan lancar mulai pintar sejak 3 bulan ini,” cerita dia.
Retno menjelaskan, dengan berada disamping siswa untuk melihat seberapa jauh dia bisa mengenali tulisan, huruf hingga kata yang terangkai ke dalam kalimat.
“Suru kelas berada di samping siswa yang menjadi perhatian khusus kami. Hal ini dilakukan untuk mengetahui progres siswa, membimbing secara perlahan agar ia bisa cepat mengerti,” jelas Retno. (mgb/oci)