Gowez Assisstance dan Bullying Raih Nilai Sempurna


MALANG - Muhammad Wildan dan Julia Pratiwi, berhasil meraih nilai A untuk penelitiannya. Wildan  dari jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB) membuat alat bernama Gowez Assisstance. Julia dari Jurusan Psikologi meneliti maraknya kasus bullying. Mereka akan diwisuda bersama 1066 wisudawan lain pada Sabtu (27/8/16).
Wildan berupaya membuat aplikasi untuk memprediksi jarak tempuh dengan berbasis smartphone android secara real-time dan akurat menggunakan bluetooth.
“Dengan menggunakan aplikasi yang dinamakan Gowez assisstance pengguna sepeda listrik bisa mengetahui daya baterai dengan perhitungan prosentase seperti layaknya pada mobile phone,” ujarnya.
Wildan mengatakan dengan aplikasi Gowez assisstance, pengguna sepeda listrik juga bisa mengetahui waktu untuk mengisi baterai. Selain itu pengguna juga bisa memperkirakan sampai berapa kilometer lagi sepedanya bisa berjalan.
Gowez Assisstance dilengkapi dengan sensor untuk mengukur kapasitas baterai dan menghitung jarak yang ditempuh. Prediksi jarak didapat dengan metode perbandingan konsumsi energi dan kecepatan sepeda.
Gowez Assisstance mampu membaca perubahan arus hingga 30A dengan akurasi sebesar 94,08 persen dan presisis ± 0,02A serta mengukur kecepatan dengan tingkat akurasi 94,87 persen dan tingkat presisi ±0,15 km/h. Prediksi jarak yang dihasilkan memiliki akurasi 80,84 persen. Jarak maksimal antara smartphone dan alat ini agar dapat terkoneksi adalah sembilan meter. Data kapasitas baterai akan disimpan berkala dalam waktu tertentu pada memori untuk menghindari kehilangan data
Wildan mengungkapkan dalam proses pembuatan alat tersebut ada beberapa kendala yang dihadapinya. Terutama dalam mencari perangkat yang digunakan, dimana bahan-bahan yang tidak bisa dicari di Indonesia tapi harus impor dari China.
Rencananya, Wildan akam memasarkan produknya ke masyarakat.
“Sebelum dipasarkan saya akan mencoba untuk mematenkannya terlebih dahulu. Agar mendapat pengakuan hak cipta,” kata Wildan.
Sementara mahasiswa jurusan Psikologi FISIP UB, Julia Pratiwi dalam penelitiannya yang berjudul “Perbedaan Perilaku Overt Aggression Pelaku Bullying Antara Siswa Sekolah Dasar dan Siswa Sekolah Menengah Pertama di Malang” mengatakan, kasus bullying yang terjadi saat ini justru paling banyak di tingkat Sekolah Dasar (SD) bukan tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kasus bully yang diteliti oleh Julia lebih mengarah pada overt aggression . Overt aggression merupakan bentuk agresi baik fisik maupun verbal yang dilakukan secara langsung dan terlihat kepada seseorang dengan tujuan untuk menyakiti orang tersebut, misalnya memukul, mengancam secara langsung, merampas barang milik orang lain
Berdasarkan  survei yang telah dilakukan dengan mengambil 405 responden yang terdiri dari 105 siswa SD dan 84 siswa SMP di Malang dan jumlah itu sekitar 75 persen kasus overt aggression bullying terjadi di tingkat SD. Sisanya ada di tingkat SMP.
Dalam penelitiannya, Julia mengatakan anak-anak yang mengalami kecenderungan melakukan bullying kepada temannya, dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain lack identity, kesepian, dan balas dendam.
Faktor lack identity disebabkan karena si anak masih dalam masa pencarian identitas. Dia belum bisa menemukan identitas yang lebih dominan dalam dirinya. Sehingga terkadang masih mencari dukungan lewat bullying. Penyebab utama adalah perbedaan tingkat perkembangan yang berbeda pada siswa SD dan SMP. Siswa SD masih belum bisa menyalurkan emosi dengan cara yang benar, dan daya penalaran  mereka, belum sebaik siswa SMP.
Sementara itu, 30 persen tindakan bullying disebabkan karena pelaku mengalami kejadian serupa di masa lalu. Sehingga dia cenderung untuk melakukan balas dendam kepada adek kelasnya.
Julia mampu mempertahankan pendapatnya di hadapan dosen penguji dengan meraih nilai sempurna “A”. (*/adv/oci)