Grade Sekolah Favorit Turun !


MALANG – Penerimaan Peserta Didik Baru  (PPDB) jalur wilayah ternyata berakibat penurunan grade bagi SMP favorit di Kota Malang. Dua sekolah itu adalah SMPN 3 dan SMPN 5 Malang. Walaupun bakal ada PPDB jalur regular untuk meningkatkan rata-rata nilai, namun tetap saja nilai terendah hasil PPDB wilayah mempengaruhi grade sekolah.
SMPN 5 Malang yang dipimpin oleh Burhanuddin M.Pd, mencoba membandingkan dengan data tahun lalu.  Data statistik PPDB tahun lalu, SMPN 5 menunjukkan nilai tertinggi rata-rata 97 dan rata-rata terrendah  92, namun dari data PPDB tahun ini untuk jalur wilayah menunjukkan angka terendah 86 dan tertinggi 93.
Jika dilihat dari nilai dua nilai tersebut, nilai tertinggi di jalur wilayah yang diterima di SMPN 5 Malang adalah angka terendah tahun lalu. Cukup ironis. Meski demikian, Burhan tetap optimis dengan kebijakan yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan tersebut.
Dia menambahkan, dengan adanya kondisi ini, ia akan berupaya keras untuk memberikan pelayanan terbaik bagi siswa yang rentang nilainya mengalami ketimpangan signifikan. “Untungnya nilai tidak terlalu timpang, selisihnya masih sedikit lah,” ujarnya.
Namun ia juga mengungkapkan, hasil PPDB ini akan juga dibandingkan dan digandengkan dengan nilai rata-rata jalur regular yang akan berlangsung mulai hari ini sampai 1 Juli. “Artinya, kita akan coba menyatukan kedua hasil data itu, lalu kita akan pilah-pilih lagi untuk treatment-nya. Misalnya, apa yang harus kami lakukan, para guru dalam mendidik siswa mendatang,” jelas Burhan.
Ia yang juga Ketua MKKS SMP Kota Malang menganggap regulasi ini sebagai optimalisasi tugas para pendidik. Dengan hasil seperti ini, akan memberi melecut sekolah untuk konsisten dengan mutu dan kualitasnya.
SMPN 3 Malang juga mengalami dampak penurunan grade akibat PPDB jalur wilayah. Tahun lalu, rata-rata nilai terendah 90, namun akibat PPDB jalur wilayah kali ini mengalami penurunan menjadi 81.  “Data juga menunjukkan peringkat kita kalah dengan sekolah yang bisa dikatakan pinggiran,” ujar Kepala SMPN 3 Malang Dra. Tutut Sri Wahyuni M.Pd.
Sebenarnya Tutut sudah menduga kondisi ini, karena dampak wilayah sehingga sekolah tinggal terima yang ada saja. “Tapi tidak apa, karena sudah tugas sekolah memberikan yang terbaik bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.
Kepala sekolah yang selalu terlihat cantik ini mengaku, mendapat banyak protes dari staff pengajar tentang hasil akhir dari PPDB wilayah. Namun ia tidak khawatir, akan adanya penurunan mutu sekolah. Baginya, input tidak melulu mempengaruhi output. “Input bagus belum tentu output bisa bagus, karena proses pembelajaran pun sangat pempengaruhi,” ujarnya tegas.
Ia berpendapat, justru dengan adanya fenomena seperti ini, pihaknya harus memperlihatkan kualitas sekolah yang sesungguhnya. Ia memberikan sedikit bocoran, akan diadakannya kelas khusus bagi siswa yang nilainya masih dirasa kurang, atau berada di bawah rata-rata. Ia juga merasa termotivasi untuk terus memikirkan strategi pembelajaran.
“Dengan begini, kita jadi termotivasi dan tertantang untuk menjadikan sekolah ini sebagai sekolah yang memang mengedepankan metode pembelajaran untuk mendidik, bukan hanya dari input yang berkualitas saja,” ujarnya dengan semangat.
Ia mengaku secara jujur, sedikit ada rasa kecewa, namun harus tetap mematuhi regulasi, sebab ia meyakini sebuah regulasi mempunyai maksud dan tujuan untuk menguntungkan masyarakat banyak. Ia berterima kasih kepada Dinas Pendidikan Kota Malang, karena telah membuat dirinya sebagai pemimpin termotivasi untuk benar-benar menjalankan tugas sebagai tenaga pendidik yang sebenarnya.