Hindari Vaksin Palsu, Rantai Kesehatan Harus Diperkuat

KONFERENSI: Dra. Maura Linda Sitanggang, P.hD, Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan pasa acara Konferensi Internasional Bioscience di Universitas Brawijaya, kemarin.

MALANG - Kasus vaksin palsu yang sempat menghebohkan tanah air, membuat Kementrian Kesehatan (Kemenkes) semakin mawas diri. Dra. Maura Linda Sitanggang, P.hD, Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan mengatakan, agar tidak terulang kejadian yang sama, perlu ada jalinan kerja sama antar beberapa pihak seperti perguruan tinggi, industri farmasi dan juga pemerintah.
Hal itu ia sampaikan saat mengisi Konferensi Internasional Bioscience di Universitas Brawijaya (UB), kemarin. “Memang temuan terbaru sudah ditindak lanjuti oleh pihak yang berwenang, kita dari teknis menindak-lanjuti supaya kedepan, suply rantai vaksin ilegal ke sistem kesehatan bisa terputus,” jelasnya.
Linda mengatakan, rantai kesehatan harus diperkuat agar tidak lagi disusupi vaksin palsu. Tentunya hal tersebut, perlu ada kerja sama dengan beberapa pihak seperti perguruan tinggi, industri farmasi dan pemerintah. Tak hanya mengacu pada kasus tersebut, kerja sama antara tiga elemen perlu diaplikasikan pada hal kesehatan lain.
Dalam hal ini, tentu akademik menjadi sumber informasi. Sedangkan industri farmasi sebagai perantara bisnis, harus punya hulu mengacu pada riset. “Jangan berbasis pada trade saja,” tegasnya.
Langkah itu dipercaya bisa mendekatkan akademik dengan industri farmasi. Sementara tugas pemerintah, lanjut Linda, adalah terkait regulasi. Sementara itu, Kepala LIPI, Adi Santoso, PhD mengatakan, pihak LIPI bekerjasama dengan beberapa tim akademisi, salah satunya biosains UB, yang dinaungi industri farmasi Biofarma, berencana membuat obat anti anemia.
Menurut Adi, tingkat kebutuhan obat anti anemia di Indonesia cukup tinggi. Sebagai peneliti yang mendapat dana dari pemerintah, pihak LIPI merasa berkewajiban untuk memecahkan permaslahan bangsa tersebut, dengan menggandeng Biofarma dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
“Kenapa anemia? Dari penelitian saya di Amerika memaparkan obat anti anemia itu luas. Gagal ginjal, membutuhkan obat anemia, setelah operasi sesar, pendarahan butuh obat anemia, kanker juga membutuhkan obat tersebut,” jelasnya. (nia/udi)