IBU Sarasehan Toleransi Budaya


BERSAMA : Rektor IBU Dr Nurcholis Sunuyeko, Msi bersama Ridwan Hisjam Wakil Ketua Komisi X DPR-RI dan para peserta sarasehan, di Cafe IBU Citandui, kemarin sore.

MALANG – IKIP Budi Utomo (IBU) menghelat acara Sarasehan Toleransi Lintas Budaya bersama Wakil Ketua Komisi X DPR-RI, Ridwan Hisjam. Kemarin, sarasehan yang dihadiri para mahasiswa dan dosen IBU, dihelat di Cafe IBU Host, kampus C, Jalan Citandui 16 Kota Malang. Rektor IBU, Dr. Nurcholis Sunuyeko, M.Si menjadi moderator dalam sarasehan ini.
“IBU saat ini adalah miniatur Indonesia yang mewadahi para mahasiswa dari Indonesia Timur untuk belajar di sini. Sarasehan toleransi budaya ini dihelat, karena kita kampus ini tetap menjadi tempat yang menghargai perbedaan, namun dirangkai dalam kesatuan Bhineka Tunggal Ika,” kata Nurcholis.
IBU sengaja mengundang Ridwan Hisjam, karena politisi Golkar ini membidangi pendidikan dan kebudayaan. Tema sarasehan toleransi lintas budaya juga dianggap tepat karena IBU menjadi tempat bagi mahasiswa dari berbagai suku, agama dan budaya, untuk hidup dan belajar bersama dalam kedamaian.
“IBU memang kampus multikultural. Namun, miniatur Indonesia tentu saja tidak boleh ada konflik. Kami terus mengedepankan penghargaan pada perbedaan, sehingga kampus ini tenang, tanpa konflik antar mahasiswa,” papar Nurcholis. Ridwan Hisjam dalam paparannya, menyebut IBU merupakan kampus yang bisa mewadahi perbedaan suku, agama dan budaya tanpa memunculkan konflik yang runcing.
Sehingga, sudah seharusnya IBU diapresiasi sebagai kampus yang menjunjung tinggi penghargaan terhadap perbedaan dan sifat Bhineka Tunggal Ika yang multikultural. Dalam sarasehan, Ridwan juga mengungkap soal RUU Kebudayaan yang kini sedang digodok di Senayan. Pasal yang masuk dalam RUU Kebudayaan ini adalah rokok kretek sebagai salah satu warisan budaya leluhur.
“Rokok kretek memang jadi peninggalan kebudayaan leluhur. Tapi, hal ini jadi polemik serta menimbulkan pro kontra dalam perjalanan pembahasan RUU,” papar Ridwan. Selain membahas soal RUU rokok kretek sebagai warisan budaya leluhur, dewan dari daerah pemilihan Malang Raya ini, juga menjelaskan pentingnya budaya bahari atau laut sebagai kekuatan utama Indonesia.
“Kalau mau dirunut, Indonesia itu negara bahari. Kelautan kita harusnya kuat. Nenek moyang kita pun, piawai dalam bidang bahari. Tak heran, pemerintah punya program pendayagunaan laut, karena ini berhubungan dengan akar kehidupan Indonesia sebagai negara bahari,” tutup Ridwan.(fin/aim)