Ilmu Astronomi Jadi Jembatan Cinta Sains


BELAJAR: Pelatihan guru dalam acara The 82nd International NASE Astronomy Course, di Candi Badut, kemarin. (DICKY BISINGLASI/ Malang Post)


MALANG - Kurangnya minat belajar siswa terhadap ilmu sains dan astronomi, membuat Universitas Machung mengadakan pelatihan kepada guru matematika, fisika dan ilmu falak, dalam acara The 82nd International NASE Astronomy Course, di Candi Badut, kemarin.
Rektor Universitas Machung Dr. Chatief Kunjaya mengatakan, kurangnya minat belajar siswa terhadap ilmu sains terdiri banyak faktor, salah satu yang paling sering ia dengar adalah membosankan dan sulit. Alasan lain adalah, ilmu sains dirasa kurang aplikatif terhadap kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, ilmu astronomi menjadi solusi atau perantara untuk mengurai polemik tersebut. “Karena lebih mudah menarik minat siswa untuk belajar Astronomi, daripada belajar fisika dan matematika. Meskipun mempelajari Astronomi juga perlu belajar fisika dan matematika,” ujarnya.
Tak hanya di Indonesia, permasalahan minimnya minat siswa mempelajari ilmu sains rupanya juga berlaku di Amerika. Kun mengisahkan, di Amerika, peminat sain justru datang dari negara Asia, seperti Tiongkok, India dan Singapura.
Kun melanjutkan, pembelajaran sengaja memilih berada di lokasi candi sekaligus untuk menunjukkan kepada peserta yang hadir, bahwa pembangunan candi banyak menggunakan ilmu astronomi.
“Kalau candi-candi kecil begini mungkin tidak banyak pengaruh, tapi kalau candi besar jelas sangat pengaruh dalam menentukan arah pembangunan,” jelasnya.
Senada dengan Kun, Prof. Rosa Maria Ros Ferre, Presiden IAU juga mengatakan, strategi lain untuk menarik siswa mau mempelajari sains adalah dengan astronomi. “Anak-anak selalu mudah tertarik dengan misteri luar angkasa, oleh karena itu penting memperkenalkan ilmu sains terlebih dahulu,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Network for Astronomu School Education (NASE) memiliki program untuk melatih guru tentang ilmu astronomi, di berbagai belahan dunia, salah satunya adalah Indonesia.
Hal ini dilakukan agar pembelajaran sains dapat meningkat secara global. Selain itu, melalui kegiatan pelatihan tersebut, menjadi salah satu upaya NASE dalam memperluas jejaring pendidikan astronomi di dunia.
“Dengan cara menggandeng institusi pendidikan yang kami temui dalam pelaksanaan pelatihan astronomi di berbagai penjuru dunia,” ujar Rosa, wanita asal Spanyol tersebut. (nia/oci)