Ilmu Tidak Cukup Dipelajari dari Media Sosial


KII: Rektor Unisma Prof H. Maskuri berbincang dengan Syekh Dr Salim Ulwan dari Australia sebelum berbicara di forum KII di Unisma kemarin. (HUMAS UNISMA/ Malang Post)

MALANG - Pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia mendapat apresiasi dari ilmuwan Islam asal Amerika, Prof Roland Lukens Bull. Hal itu ia sampaikan dalam pembahasan saat Konferensi Internasional Islam (KII), yang dihadiri ilmuwan Islam dari penjuru dunia di Universitas Islam Malang (Unisma), kemarin.
Dihadapan ratusan peserta konferensi yang hadir, ia menceritakan pernah melakukan penelitian di Indonesia mengenai ilmu pengetahuan umum. Ia pun membuat kesimpulan dari hasil penelitian tersebut, bahwa metode yang diterapkan Indonesia sangat luar biasa, karena ilmu yang ditempuh sebagian besar orang Indonesia tidak terbatas pada pengetahuan umum saja.
Solusi utamanya adalah ilmu yang diterapkan oleh penggiat pendidikan di Indonesia diperoleh dari pendidikan madrasah, yang menjadi pondasi kuat apabila dipadukan dengan ilmu pengetahuan dari Yunani.
Salah seorang narasumber asal Australia, Syekh Dr Salim Ulwan mengutarakan perbedan pandangan tentang keilmuan berdasarkan versinya. Ulwan menganggap, perkembangan teknologi beserta kecanggihannya tidak dapat menggantikan proses belajar mengajar konvensional yang selama ini sudah diterapkan.
Pada prinsipnya, lanjut Ulwan, mempelajari pengetahuan tidak dapat dipelajari secara singkat, terutama ilmu agama. “Ilmu tidak bisa dipelajari dari media sosial, karena ilmu adalah peninggalan nabi,” jelasnya.
Ia menegaskan, semua muslim didunia wajib mempelajari agama, supaya manusia dapat mengetahui mana perintah dan mana larangan Allah SWT. “Ada yang disebut fardlu khifayah, artinya ilmu pengetahuan yang bisa dipelajari apa saja,” paparnya.
Dalam kegiatan tersebut juga menghadirkan nara sumber asal Indonesia, Prof Dr KH Tholhah Hasan, sekaligus mantan rektor Unisma. Dalam orasinya, ia berpesan agar umat Islam harus menjaga kerukunan umat beragama. “Terutama antar umat Islam sendiri,” tegasnya.
Ia mengimbau agar seluruh umat agama Islam menghentikan pertikaian antar umat.
“Masih banyak hal lain yang bisa dipikirkan untuk meraih masa depan. Radikalisme dan terorisme adalah penyakit,” tukasnya. (nia/udi)