Jatuh Cinta dengan Perpustakaan Karena Sang Ayah

MALANG - Bermula dari “paksaan” orang tua. Siapa sangka, jurusan perpustakaan yang dipilih Armia Hikmaturrachmi, A.Md, 12 tahun lalu, berhasil membawa namanya menjadi juara satu pustakawan berpestasi tingkat nasional, dalam ajang guru prestasi tingkat nasional tahun 2016. Armi, sapaan akrab, pustakawan asal SMAN 5 Kota Malang itu menceritakan, saat memutuskan untuk mengambil program studi kuliah setelah lulus dari MAN 3 Kota Malang, ia sempat dilanda kebingungan. Pasalnya, sang ayah memberi pilihan mutlak untuk jurusan terakhir. “Dulu kan ada tiga pilihan, ayah saya bilang, pilihan pertama dan kedua boleh sesuai minat saya, pilihan ketiga biar ditentukan oleh ayah, nah waktu itu ayah saya memilih jurusan perpustakaan,” kenang wanita kelahiran 9 September 1986 itu. Ternyata, pilihan sang ayah, Syamsul Arifin, yang harus dijalaninya di perguruan tinggi. Dengan sedikit gamang, akhirnya ia memutuskan menerima takdir nya menjadi mahasiswi Ilmu Perpustakaan Universitas Airlangga. Satu tahun awal, Amri merasa bersyukur telah menuruti perintah ayahnya. “Di awal semester sudah mulai dapat proyek, dulu banyak sekolah yang butuh tenaga perpustakaan untuk inventarisir buku, karena mereka mau akreditasi. Akhirnya dosen-dosen banyak yang menugaskan mahasiswanya, termasuk saya,” ujar wanita kelahiran Tulungagung tersebut. Malahan, dari proyek-proyek tersebut, Amri belajar banyak hal soal praktik dalam menginventarisir buku perpustakaan. Sekaligus, honor yang ia dapat sudah tergolong lumayan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai anak kost. Lulus dari Unair tahun 2007, Amri melanjutkan karir sebagai pustakawan di SMPN 41 Kota Surabaya. Di tempat itu, ia hanya bekerja selama satu tahun. Di tahun 2008, ia kembali memutuskan untuk kembali ke Kota Malang. Saat itu ia langsung melamar ke SMAN 5 Kota Malang dan langsung diterima. Seolah tak ingin buang banyak waktu, ia pun bergegas membenahi apa yang perlu dibenahi dari perpustakaan sekolah yang kini dikepalai Anis Isrofin, M.Pd. “Waktu masuk ke sini, sudah separuh jalan. Artinya, tidak terlalu gudang buku. Sudah seperti selayaknya perpustakaan, masih banyak sekolah lain yang belum memahami fungsi dari perpustakaan,” urainya mencoba mengenang awal karirnya di SMAN 5 Kota Malang. Terkait kemenangannya sebagai pustakawan berprestasi tingkat nasional, Amri mengungkapkan bahwa ini semua tidak terlepas dari kerja tim. “Sebetulnya ini bukan kemenangan saya saja. Tetapi tim perpustakaan sekolah,” terangnya. Amri dan tim membawa karya tulis berupa tata ruang dan desain perpustakaan. Wanita yang menikah semenjak tahun 2007 itu, menceritakan apabila saat itu perpustakaan SMAN 5 Kota Malang masih berada di lantai dua. Padahal, syarat untuk bisa mengikuti ajang perlombaan adalah, perpustakaan harus berada di lantai satu. Semenjak itu pun ia langsung mengajukan proposal ke kepala sekolah yang bersangkutan. Setelah terkabul, Amri dan tim segera memperbaiki sistem dan merombak isi perpustakaan. Beruntungnya lagi, lembaga Goethe Institute Jerman membantu perpustakaan sekolah dalam merenovasi dan menata ruangan. “Kami disponsori oleh Goethe Institute itu, untuk desain dan tata ruang. Katanya supaya mirip dengan cafe, agar anak betah berlama-lama di perpustakaan,” terangnya. Selebihnya, soal inventarisir buku dan peletakannya, digagas sendiri oleh Amri dan kawan-kawan satu tim. Hasilnya, pengunjung perpustakaan pun semakin bertambah. Dari yang awalnya berjumlah 15 ribu pengunjung per tahun, kini menjadi 19 ribu per tahun. Selain itu, untuk mempertahankan jumlah pengunjung agar kian bertambah, fasilitas perpustakaan pun semakin dilengkapi dengan adanya komputer dan jaringan wifi, sebagai sarana mencari informasi sekaligus hiburan para siswa siswi SMAN 5 Kota Malang. Meski demikian, Amri menegaskan, fungsi gadget tidak dapat menggantikan peranan buku. Hal itu tidak hanya keluar langsung dari pemikirannya, melainkan juga dari buah pikir dan testimoni para pelajar. Ia dan rekan-rekannya pun berupaya menumbuhkan minat baca pada siswa dengan menambah koleksi buku sesuai kebutuhan siswa. “Biasanya anak-anak minta novel, ya saya ajukan lewat proposal ke bendahara sekolah. Bisa atau tidaknya, menyesuaikan dengan anggaran,” bebernya. Tak hanya itu, guna mengundang pelajar untuk mau mampir dan menyempatkan waktu membaca di perpustakaan, Amri memegang komitmen penting berupa pelayanan ramah. Amri menceritakan, kompetisi yang berlangsung di tingkat nasional tak ubahnya sama seperti kompetisi yang berlangsung di tingkat provinsi. Hanya saja, beban yang dirasakan lebih berat. Ia mengungkapkan, saingan terberatnya adalah para pustakawan yang berasal dari beberapa provinsi di Pulau Jawa. Adapun kriteria penilaian, berdasarkan keterangan Amri, dilihat dari beberapa komponen penting, seperti portofolio dan laporan penyelenggaraan perpustakaan selama lima tahun terakhir. (nia/oci)