Jurusan Potensial Tapi Tak Laku


KURANG MURID: Ada banyak jurusan potensial di SMK yang tak diminati. (DICKY BISINGLASI/ Malang Post)

MALANG - Beberapa jurusan SMK negeri di Kota Malang kekurangan pagu pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini. Dinas Pendidikan (Dindik) pun memutuskan kepada beberapa SMK tersebut, membuka jalur pendaftaran lagi untuk memenuhi jumlah siswa pada jurusan yang kekurangan.
Budiono, Kasie Kurikulum Dinas Pendidikan Menengah (Dikmen) Kota Malang mengatakan, kebijakan tersebut ditetapkan sebab penambahan kuota 25 persen dari luar wilayah pun masih kurang memenuhi.
Budi menggaris-bawahi, kebijakan tersebut bukan menambah pagu di SMK negeri. Melainkan untuk memenuhi pagu yang kurang, dengan membuka pendaftaran khusus untuk jurusan yang sepi peminat, seperti kriya kayu, analisis kimia, kriya keramik dan pekerjaan sosial.
Sedangkan pembukaan pendaftaran untuk jurusan yang masih minim siswa, dilakukan setelah pelaksanaan daftar ulang rampung, yakni Jumat (15/7). Budi menjelaskan, prosedur pendaftaran dilakukan secara manual.
“Pendaftaran secara manual untuk memenuhi jurusan yang masih kurang, sekolah membuka pendaftaran sendiri via non online,” paparnya.
Adapun jurusan yang kekurangan siswa tersebut adalah SMKN 12, SMKN 7, SMKN 13, SMKN 9 dan SMKN 5. Hanya saja, terkait detail kebutuhan siswa dari masing-masing sekolah, Budi masih belum mendapat laporan, karena menunggu hasil evaluasi setelah proses daftar ulang berakhir secara serentak Jumat (15/7) mendatang.
Menanggapi kejadian kekurangan pagu pada SMK negeri, Budi mengakui apabila pihak Dikmen masih belum maksimal dalam menyosialisasikan beberapa jurusan tersebut ke masyarakat. Sehingga, masyarakat menjadi kurang mengerti dan memahami mengenai manfaat jurusan tersebut.
“Padahal peluang kerja dari jurusan tersebut lebih banyak dan terbuka. Jurusan yang dianggap kurang up to date seperti kriya kayu dan kriya keramik, padahal pangsa pasarnya ada, banyak malah, cuman sepi peminat,” ujarnya.
Sementara itu, Dra. Husnul Chotimah, M.Pd, Kepala SMKN 13 membenarkan jika sekolah yang ia pimpin saat ini kekurangan jumlah siswa pada jurusan Teknologi Hasil Pertanian (THP). Jumlahnya masih belum diketahui pasti. “Saya belum tahu pasti, nanti setelah daftar ulang baru ketahuan jumlahnya,” terangnya.
Husnul menjelaskan apabila tahun lalu jurusan tersebut juga mengalami kekurangan pagu. Penyebabnya, menurut Husnul, masyarakat saat ini diperkirakan masih beranggapan bahwa jurusan THP identik dengan cangkul-mencangkul.
“Padahal sebenarnya tidak. Jurusan kami lebih pada pengelolaan hasil pertanian,” tuturnya. Husnul mengaku ini merupakan ironi bagi negeri ini. Masyarakat masih asing dengan jurusan pertanian, sedangkan Indonesia merupakan negara agraris dengan keunggulan pertaniannya. (nia/oci)