Jurusan Teknik Favorit Pendaftar Program Disabilitas


SELEKSI: Kali ini peminat program disabilitas sudah mulai bervariasi dan mulai mengarah ke jurusan teknik atau eksakta.

MALANG – Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas Universitas Brawijaya (SPKPD UB) hari pertama dilakukan kemarin (1/8/16). Peminat program ini mengalami peningkatan, tahun lalu 30 orang, tahun ini 42 orang. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini peminat program disabilitas sudah mulai bervariasi dan mulai mengarah ke jurusan teknik atau eksakta.
Slamet Thohari selaku Sekertaris PLSD mengatakan jika peminat yang bervariasi membuat pihak PLSD sedikit terkejut. “Terkejut dalam artian kita tidak habis pikir, setelah lima tahun, baru tahun ini peminat jurusan bervariasi, biasanya anak dengan kebutuhan khusus ini kebanyakan memilih jurusan sosial, dan sekarang sudah ada yang berminat memilih jurusan teknik,”jelas Thohari.
Menurut Thohari, jurusan teknik akan jauh lebih susah, dan memiliki lebih banyak konsekuensi dibandingkan dengan jurusan sosial. Akan ada banyak yang dibutuhkan dijurusan teknik, misalnya dengan ketelitian, kecakapan, dan ketepatan.
“Mugkin bagi kaum difabel membutuhkan perhatian ekstra untuk jurusan ini,” aku Thohari.
Hal senada diungkapkan Ari Pratiwi ,M.Psi Koordinator Pelayanan PLSD. Ari mengakui, peminat jurusan yang semakin bervariasi ini sebagai tantangan baru bagi PLSD.
“Peminat jurusan sekarang lebih bervariasi, ini sangat menarik, dan ini tantangan baru bagi kami,” ungkapnya.
Menurutnya, hal ini harus bisa diwujudkan bersama oleh dua pihak, yaitu pihak PLSD dan pihak jurusan atau program studi terkait.
“Ketua Prodi atau jurusan sangat perlu mengetahui calon mahasiswanya, terlebih di jurusan sains yang juga memerlukan praktik dan tentu memiliki tingkat kesulitan sendiri jadi harus dipastikan calon mahasiswa sanggup jika nanti masuk di jurusan teknik” ungkap Ari.
Kesanggupan mahasiswa nantinya untuk bisa menerima konsekuensi perkuliahan akan diujicobakan melalui adanya simulasi perkuliahan dan wawancara kepada orang tua yang dilakukan oleh ketua program studi atau jurusan.
“Simulasi ini nanti yang akan memberikan gambaran kesanggupan calon mahasiswa untuk bisa tidaknya mereka menerima proses perkuliahan, dan interview antara orang tua dan ketua prodi ini nanti yang akan memberikan gambaran kesanggupan mereka untuk menerima konsekuensi jurusan,” jelas Ari.
Lebih lanjut Ari menjelaskan tentang prosedur penerimaan mahasiswa difabel adalah dengan mengikuti tes berupa psikotes dihari pertama yang didampingi oleh penerjemah untuk tunanetra. Untuk hari kedua akan dilakukan simulasi perkuliahaan, hari ketiga adalah wawancara yang dilakukan antara orang tua dan ketua program studi atau ketua jurusan. (mgb/oci)