Kemendikbud Selaraskan Kebutuhan Industri dan SMK


MALANG - Kebutuhan terhadap lulusan SMK di beberapa jurusan overload. Jumlah lulusannya lebih banyak dibandingkan kebutuhan industri. Karena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mulai merancang strategi, agar kebutuhan industri dengan jumlah lulusan SMK berimbang.
Hamid Muhammad, M.Sc Ph.D Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Republik Indonesia (RI) mengatakan, selama ini siswa seringkali mengumpul pada satu jurusan tertentu. Sehingga perlu adanya langkah pemetaan yang disesuaikan dengan kebutuhan.
"Jangan sampai anak-anak ikut jurusan tertentu, padahal lulusannya sudah over sehingga tidak diperlukan di dunia industri," tukasnya saat menghadiri orasi ilmiah wisuda di UMM, beberapa waktu lalu.
Hamid mengatakan, apabila siswa memaksakan kehendak masuk di jurusan yang sudah over, dikhawatirkan saat ia lulus kebutuhan lapangan kerja di jurusan tersebut, semakin sempit. Sehingga berimbas pada status lulusan SMK yang bersangkutan, menjadi pengangguran.
Hamid menjelaskan, jurusan yang over bertahap akan disesuaikan. Di lain sisi, jurusan yang sepi peminat padahal peluang kerja melimpah, akan terus digenjot untuk semakin maju.
"Seperti kemaritiman, peternakan, pariwisata, itu kan sepi peminat, padahal peluang kerjanya luar biasa," ujarnya.
Tak hanya itu, rencananya Kemendikbud juga akan melakukan gerakan perubahan, salah satunya adalah dengan perombakan Spektrum SMK. Jika selama ini, Spektrum SMK terdiri dari 126 kompetensi keahlian, akan berkembang menjadi 141. Hal ini tentu saja mengingat perkembangan jurusan SMK dipicu dari perkembangan kebutuhan industri.
"Ini akan segera disahkan, berdasarkan inspeksi yang baru nanti, semua jurusan di seluruh Indonesia akan dipetakan," terangnya.
Suyitno, Kepala Bidang (Kabid) Dinas Pendidikan Menengah (Dikmen) Kota Malang mengatakan, jika memang hal tersebut telah ditetapkan, maka pemerintah daerah setempat harus melakukan.
"Itu kan masih wacana, kita mengikuti kebijakan dari atas, kalau memang Spektrum harus berkembang kami mengikuti, karena itu bagian dari kurikulum," ujarnya kepada Malang Post. (nia/oci)