Layanan ABK Terkendala Jumlah Guru

NYAMAN: Salah satu anak ABK yang belajar di SMPN 18 Malang.

MALANG – Suasana kelas VII-E SMPN 18 Malang ditahun ajaran baru ini diselingi pemandangan berbeda.  Terdapat 4 anak berkebutuhan khusus (ABK) yang tahun ini belajar di sana. SMPN 18 Malang memang membuka kelas khusus ABK yang disebut kelas inklusif, dan dikelola dengan baik oleh tim khusus yang dibentuk. Untuk tahun ajaran baru 2016/2017 SMPN 18 menerima siswa ABK 16 orang.
“Kita siap melayani siswa ABK, oleh karena itu fasilitas dan guru sudah disiapkan,” ujar Kepala SMPN 18 Drs Budi Santoso MM kepada Malang Post.
Budi menjelaskan, jika pihaknya telah mempersiapkan tenaga pengajar khusus untuk mendampingi siswa ABK. “Kita sebut GBK (Guru Berkebutuhan Khusus), adalah guru yang khusus mendampingi ABK,” jelas Budi.
Budi menjelaskan lebih lanjut, ruangan terapi, ruang BK dan pendidikan individu sudah terkelola dengan baik, namun GBK yang telah menjadi pendamping siswa masih dirasa kurang.

“Kita perlu jumlah ideal 2:1 yang artinya. Satu guru mendampingi dua siswa, namun sekarang kita masih punya 7 guru,” ungkapnya.
“Tentu membutuhkan sebuah keahlian khusus untuk berhasil mendidik ABK, disini pun siswa ABK yang kita terima rata-rata memang mereka bermasalah dengan mental bukan fisik,”ungkap Latifa Istiani, S.Psi yang tergabung kedalam salah satu GBK SMPN 18 Malang.
Latifa mengatakan, ABK yang belajar di SMPN 18 akan dibuat seolah mereka sama dengan siswa lainnya, hanya saja ada guru yang harus mendampingi mereka. Sosok guru yang mendampingin harus sabar, telaten dan penuh kasih sayang.
“Siswa yang saya dampingi memang semua gangguan mental, autis, slow learner, ADHD dan gangguan konsentrasi,” jelas Latifa.
Latifa sedikit bercerita, jika tidak mudah memang untuk menyeragamkan mereka dan menyamakan dengan anak normal lainnya, namun demikian ia tetap diberikan motivasi oleh Kepala Sekolah untuk tidak menyerah dalam mendidik, melayani dan mengajari ABK yang belajar di SMPN 18 Malang.
SMPN 18 memang sudah siap dengan program kelas inklusif yang sudah berjalan beberapa tahun lalu, kesiapannya pun juga akan terus diperbaiki melalui penambahan tenaga GBK untuk mendampingi ABK. (mgb/oci)