Malang Siap Full Day School

MALANG - Sepekan menjabat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy menggagas sistem full day school, terutama untuk jenjang SD dan SMP. Sekaligus, ini menjadi salah satu upaya Muhadjir dalam menangkal pergaulan anak di luar jam sekolah, ketika orang tua belum dapat mengawasi mereka karena masih bekerja. “Alangkah lebih baik anak di sekolah, mendapat pengawasan dari guru, ketimbang pulang sekolah mereka bermain dan orang tua belum ada di rumah, karena masih bekerja,” ucapnya saat menghadiri acara di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pekan lalu. Selain itu, full day school diyakini Muhadjir dapat membentuk mentalitas dan karakter anak semakin tangguh, sehingga Indonesia ke depan dapat memiliki lulusan dengan daya saing tinggi. Pria asal Caruban itu berharap, dengan adanya full day school, anak benar-benar mendapat waktu yang berkualitas ketika berada di rumah, di bawah pengawasan orang tua. “Kalau bisa sudah tidak ada tugas atau PR, di rumah mereka benar-benar memanfaatkan waktu bersama orang tua,” katanya. Rencananya, Muhadjir akan menyosialisasikan hal ini ke sekolah untuk diteruskan kepada wali murid. Namun sebelumnya, tentu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) perlu waktu untuk mengkaji lebih dalam soal aturan tersebut. Mantan rektor UMM itu menegaskan, orang tua tidak perlu khawatir anak tidak mendapatkan pelajaran agama ataupun les tambahan. Sebab, hal tersebut dapat dikonsep dan dibawa ke sekolah. “Artinya, cuman pindah ke sekolah saja. Ngaji dan les di bawah kendali sekolah. Sekolah tetap punya tanggung jawab mengawasi, dari pada nanti kena hal ekstrem dan radikal, sekolah juga melakukan seleksi,” ujarnya. Namun, mendirikan konsep full day school apalagi untuk sekolah negeri tentu bukan hal mudah. Biaya operasional dipastikan membengkak. Padahal, saat kunjungan ke rumah dinas Wali Kota Malang, Sabtu (6/8/16) lalu, ia menyebutkan jika anggaran pendidikan turut terpangkas sebesar Rp 5 triliun, akibat perampingan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 139 triliun. Muhadjir menyadari betul, peranan orang tua masih diperlukan dalam kebutuhan operasional sekolah. “Makanya, kami akan mempelajari terlebih dahulu, saya akan buat Permen (Peraturan Menteri) tentang hal ini. Kapan waktunya, lihat saja nanti,” tuturnya. Ide full day school sebenarnya baru sebatas ide. Namun reaksi yang dilontarkan masyarakat begitu besar. Muhadjir pun tak menyangka berita ini sudah bergulir begitu panas di masyarakat. "Saya baru lontarkan ide saja, bagaimana bila siswa pulangnya jam 5 sore agar dia mendapatkan pendidikan karakter lewat kegiatan-kegiatan yang menyenangkan sesuai program nawacita," kata Muhadjir dalam konpres di Jakarta, Selasa (9/8/16). Muhadjir kaget, reaksi masyarakat begitu besar, ‎sehingga timbul penolakan. Padahal belum tentu ide itu dilaksanakan. "Saya lempar ide itu ke masyarakat untuk melihat reaksi publik. Eh, ternyata saya dibully habis-habisan, tapi tidak apa-apalah," ujarnya sambil tersenyum. Muhadjir menegaskan, keputusan akhir ada di tangan Presiden Jokowi. Kalau ide ini ternyata tidak bisa dilaksanakan, masih ada pendekatan lain yang bisa dilakukan. Muhadjir juga meminta masyarakat tidak menggunakan istilah full day school lagi. Menurut bapak tiga anak itu, istilah tersebut dinilainya menyesatkan dan membuat resah masyarakat. "Tolong jangan gunakan lagi‎ istilah full day school atau sekolah seharian penuh. Karena ini bisa membuat di pikiran orang, siswa itu sekolah seharian penuh. Padahal tidak begitu," kata Muhadjir. Dia menambahkan, pihaknya tidak ingin menggunakan istilah full day school, namun pada kegiatan tambahan yang menyenangkan. Siswa ketika pulang sekolah, dilanjutkan dengan kegiatan bermain atau ekskul. "Pokoknya siswa itu enak dan nyaman. Jadi bukan dipaksa belajar dari pagi sampai sore," ujarnya. Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Kota Malang, Dra. Zubaidah, MM mengatakan wacana full day school relevan jika diterapkan di lingkungan SD dan SMP. “Pergaulan zaman sekarang mengerikan. Dari pada anak di luar sekolah tidak jelas arahnya kemana, lebih baik di sekolah di bawah pengawasan guru,” ujarnya kepada Malang Post. Membuat kebijakan, tentunya harus memperhatikan berbagai macam faktor dari berbagai sisi. Mendirikan konsep full day school tentunya harus banyak mempertimbangkan berbagai macam hal, seperti kesiapan sumber daya manusia, dalam hal ini tenaga pendidik seperti guru dan kepala sekolah. “Kemudian makan siangnya bagaimana, waktu istirahatnya bagaimana, semuanya kan perlu pertimbangan,” ujarnya. Sekaligus, beberapa faktor tersebut yang dapat membuat biaya operasional semakin tinggi. “Makanya pak menteri kemarin mengatakan, peran orang tua sebenarnya masih dibutuhkan dalam dunia pendidikan,” ungkapnya. Meski demikian, Zubaidah menyatakan Kota Malang sudah siap melaksanakan full day school. Bahkan, ia menyebut ada salah satu sekolah yang sudah menjalankan sistem full day school, yakni SMAN 5 Kota Malang. “Sebenarnya saya kira Malang siap saja untuk full day school, tinggal bagaimana komando langsung dari pusat,” sambungnya. Kepala SDN Model Tlogowaru Kota Malang, Suparti, S.Pd, M.Pd menyambut wacana yang dilontarkan Muhadjir dengan antusias. “Saya bicara kredibilitas, soal pemanfaatan waktu untuk anak ketika orang tua masih bekerja, saya setuju saja,” ujarnya saat ditemui Malang Post, di sekolah yang ia pimpin. Di lain sisi, tentunya banyak komponen yang menjadi perhatian, mencakup beberapa faktor, seperti kesejahteraan pengajar dan biaya lain. Hal yang sama juga dilontarkan Isnaeni, S.Pd, M.Pd, Kepala SDN Bareng 4. Tuntutan kebutuhan hidup yang semakin tinggi, membuat beberapa orang tua banyak yang memutuskan untuk bekerja, baik dari pihak ayah maupun ibu. Sehingga, waktu mereka hampir sebagian besar berada di luar rumah, bahkan ketika anak pulang sekalipun, orang tua masih berada di tempat kerja masing-masing. “Apalagi di Kota Malang, sekarang orang tua sibuk. Dari pada setelah keluar dari sekolah, anak mendapat pendidikan tidak jelas. Lebih baik di sekolah, diawasi langsung oleh sosok guru. Akan lebih maksimal,” tukasnya. Hal penting bagi Isnaeni, adalah bagaimana membuat suasana sekolah saat sistem full day school berjalan, memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan siswa. Kebutuhan bermain dan belajar pada siswa, tetap harus menjadi fokus utama pembelajaran. Ia juga menanggapi, bimbingan belajar (bimbel) dan mengaji pun juga bisa dilaksanakan di sekolah, dengan kendali dan pengawasan pihak sekolah. “Kalau bisa, anak itu di rumah tinggal istirahat dan kumpul dengan orang tua, biar tidak stres,” katanya. Mengingat semakin tingginya pembiayaan jika menerapkan sistem full day school, Isnaeni mengatakan masih perlunya peranan orang tua dalam operasional sekolah, selain komitmen pemerintah terhadap pengembangan pendidikan bangsa. “Biaya dari pemerintah tetap diperhatikan, atau menggunakan partisipasi masyarakat dengan sistem subsidi silang. Namun peran pemerintah tetap masih penting dalam hal ini,” urainya.(nia/han)