Pemimpin Harus Punya Nyali


MENJADI pemimpin itu harus punya nyali, prinsip itu yang dijalankan Drs. Dasuki MM, kepala SMPN 8 Malang. Pria yang memasuki masa purna tugas 1 September 2016 mendatang ini tak pernah takut dalam mengambil kebijakan demi kemajuan lembaga yang dipimpinnya.

Sejak mempunyai SK Kepala Sekolah pada tahun 2000, Dasuki mencoba menimba ilmu dan pengalaman dengan menjadi kepala sekolah di Scholl Of Saudi Arabia. Setelah mempelajari betapa kemajuan sebuah pendidikan tidak lepas dari adanya biaya, pada akhirnya ia pun mencoba untuk menerapkan hal itu setelah kembali di tanah air.

“Seorang pemimpin itu bukan hanya bisa menjadi panutan, namun juga harus bisa memiliki nyali untuk mengambil tindakan pada setiap keputusan,” ungkapnya.
Ia mempunyai prinsip, menjadi seorang pemimpin harus berani mengambil risiko untuk memajukan sebuah instansi atau lembaga yang dipimpin, khususnya untuk memimpin sebuah lembaga pendidikan.
“Saya sudah berkali-kali mengambil langkah berani untuk mengambil risiko, dengan  menunjukkan pembangunan dari sebuah sekolah dengan tidak hanya mengandalkan dana bantuan pemerintah semata,” ceritanya.
Sejak ia menjabat sebagai kepala sekolah, ia tetap berani untuk membangun dan memajukan sekolah yang ia pimpin.
Prinsip kepemimpinannya itu ia terapkan sejak tahun 2008, ketika itu ia menjabat sebagai kepala SDN Kauman 1 Malang. Peraturan pemerintah untuk tidak memungut biaya apapun dengan terpaksa sedikit ia terobos. Untuk kali pertama ia merintis sekolah berstandart internasional. Rintisan itu tentu saja tidak lepas dari adanya pembangunan, selain pembangunan SDM, namun juga pembangunan fisik dan infrastruktur.

“Saya tetap meminta orang tua untuk membantu sekolah, bukan sengaja untuk menentang peraturan pemerintah pada waktu itu, namun saya mencoba realistis dengan situasi yang ada pada saat itu,” ungkapnya lagi.
Ia pun bersyukur dengan kebijakan yang ia lakukan, sekolah yang ia pimpin pada waktu itu mendapatkan predikat RSBI. Itulah akibatnya kenapa kita harus punya nyali untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan.

Ketika menjabat kepala SMPN 15 Malang pada tahun 2012 hingga 2014. Dasuki melihat kondisi sekolah yang termarginalkan karena terletak di pinggiran kota. Ia lantas menerapkan keberanian untuk meminta bantuan orang tua di luar dana bantuan operasional sekolah. “Selama dua tahun menjabat, akhirnya SMPN 15 masuk kedalam Adiwiyata Nasional.

Kini Dasuki yang tinggal menghitung hari menunggu masa purna nya berpesan kepada calon penerus tongkat estafetnya, untuk bisa setidaknya mempunyai nyali untuk membuat suatu terobosan, yang mempunyai tujuan. “Jangan sampai terobosan dipakai untuk kepentingan, semua semata-mata haruslah mempunyai tujuan,” tukasnya.

Dasuki mengatakan, walaupun ia purna tugas dan secara kelembagaan, namun ia tidak purna secara aktivitas dan kegiatan. Ia mengaku akan tetap aktif untuk berorganisasi sosial. (mgb/oci)