Pendidikan Vokasi Fokus Utama Mendikbud


MALANG - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Prof. Dr. Muhajir Effendy, M.AP menyebutkan Indonesia saat ini sangat membutuhkan tenaga ahli, bukan hanya tenaga profesional. Oleh karena itu, keberadaan SMK perlu ditingkatkan lagi dan keberadaannya juga perlu dipetakan ulang. Mendikbud menyebut pendidikan vokasi akan menjadi fokus utama kementerian yang dipimpinnya.
Hal itu ia utarakan, saat menghadiri makan siang bersama wartawan, dalam kunjungannya ke Kota Malang, Sabtu (3/9). Rencananya, jurusan SMK akan dipetakan sesuai dengan potensi dan kearifan lokal, masing-masing daerah.
“Misal di daerah pertambangan, harus ada SMK pertambangan,” jelasnya. Ini dilakukan sebagai salah satu upaya, untuk membantu mengembangkan potensi sumber daya dari daerah tersebut. Pengelolaan internal dapat langsung dikerjakan oleh sumber daya manusia ahli, yang lahir dari masing-masing daerah.
Muhadjir mengatakan, kebutuhan tenaga ahli di Indonesia masih cukup tinggi. Bahkan ia tak mampu menentukan batas prosentase kebutuhan tersebut. “Yang jelas sangat banyak,” tegasnya. Mantan rektor UMM itu mengatakan, jurusan yang banyak dibutuhkan saat ini adalah seperti kemaritiman, peternakan, kelautan bahkan perfilman.
“Vokasi akan tambah sekolah, dalam rangka persiapkan tenaga terampil menengah, untuk menyongsong Indonesia yang lebih baik,” terangnya.
Sedangkan ketika melakukan kunjungan ke kantor Malang Post, Korane Arek Malang, Minggu (4/9). Ia menyebutkan, tak hanya lulusan SMK saja yang terampil, para tenaga pendidik nya pun juga dituntut dengan hal serupa. Oleh karena itu, Muhadjir membuat wacana untuk menyekolahkan guru SMK ke industri.
Selama ini, tenaga guru didapatkan dari Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK). Muhadjir menyebutkan, kualifikasi guru SMK harus lebih tinggi ketimbang guru SMA. Pasalnya, tuntutan guru SMK lebih tinggi karena harus mempersiapkan tenaga terampil.
Guru SMK yang  “mentas” dari LPTK, lanjut Muhadjir, dirasa terlalu cepat dalam merespons bidang keahlian. Bahkan, sampai sekarang belum ada pendidikan guru kelautan atau kemaritiman. Padahal, bidang tersebut yang saat ini sedang dibutuhkan Indonesia.
Rencananya, Muhadjir akan merekrut guru dari LPTK yang juga akan mendapat pembinaan tambahan, melalui pendidikan profesi dalam kurun waktu 1 hingga 1,5 tahun. Pendidikan profesi ini tidak mutlak untuk sarjana keguruan saja, melainkan juga sarjana murni.
“Artinya sarjana murni, bergelar ST bisa menjadi guru SMK, dengan syarat lolos pendidikan profesi keguruan,” bebernya kepada Malang Post. Setelah lulus menjalani pendidikan profesi, para guru akan mendapat sertifikat mengajar dan diperkenankan untuk mengajar ke sejumlah SMK.
Kesempatan menjadi guru SMK, rupanya tak hanya untuk lulusan guru saja. Para tenaga profesional yang telah bekerja puluhan tahun, bisa membagi pengalaman bekerjanya kepada pelajar SMK. Para pelaut salah satu contohnya.
“Jalur kedua bisa angkat pegawai dari tenaga profesional, yang punya pengalaman kerja bidang itu. Misalkan para pelaut profesional,” terangnya.
Pengalaman itu akan distandarkan sesuai pelatihan pendidikan profesional, untuk guru LPTK baik dari sarjana keguruan dan sarjana murni. Bahkan, guru LPTK pun setelah lulus pendidikan profesional, tidak langsung turun mengajar melainkan melewati tahapan lagi, yakni masuk industri selama satu tahun.(nia/ary)