Pendidikan Vokasi Universitas Brawijaya Mencetak Lulusan Siap Kerja


Program Pendidikan Vokasi Universitas Brawijaya (UB) bertekad untuk mencetak lulusan siap kerja. Berdiri sendiri sejak 2009, saat ini Pendidikan Vokasi memiliki 15 program studi untuk Diploma III dan 1 program studi untuk Diploma IV. Tetapi jika ditelusuri lebih jauh, program vokasi sudah ada di UB sejak 1979 dengan 20 bidang keahlian di masing-masing fakultas.
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi, perguruan tinggi diberi kewenangan untuk menyelenggarakan tiga bidang pendidikan yakni akademik, profesi dan vokasi. Berbeda dengan program akademik yang lebih mengedepankan pengembangan ilmu pengetahuan, program vokasi mendalami ilmu terapan yang berorientasi praktek untuk menghasilkan lulusan siap kerja. Untuk itu komposisi perkuliahan antara praktek dan teori di Pendidikan Vokasi UB adalah 70:30%.
Setiap tahunnya, sebanyak 800 mahasiswa mengisi bangku di Program Pendidikan Vokasi UB. Tingkat keketatan untuk mengisi bangku tersebut adalah 1:7, yang artinya 1 orang pelamar harus bersaing dengan 7 orang lainnya.
Disampaikan Wakil Ketua Bidang Administrasi Umum dan Keuangan Dr. Ir. Darmawan Ockto Sutjipto, M.Si bahwa perkuliahan di Program Pendidikan Vokasi UB diselenggarakan bersama-sama dengan Dunia Usaha dan Industri (Dudi). Keterlibatan Dudi diantaranya pada upaya menyusun kurikulum. Dengan kurikulum berbasis Dudi diharapkan lulusan yang dihasilkan sesuai dengan permintaan, utamanya dalam hal kualitas maupun etika kerja.
Bukan hanya penyusunan kurikulum, menurut Darmawan yang juga Sekretaris Jenderal Forum Perguruan Tinggi Vokasi Indonesia, Dudi juga terlibat dalam penilaian performance saat seleksi calon mahasiswa baru. Pada bidang keahlian Perhotelan misalnya, setiap awal semester pimpinan hotel di Malang Raya berkumpul di Vokasi UB untuk terlibat dalam penyusunan kurikulum. Penilaian performance juga dilakukan perwakilan dunia perbankan pada seleksi mahasiswa. Bahkan perwakilan perbankan juga turut menentukan jumlah mahasiswa yang diterima. Hal ini disebut Darmawan sebagai penerimaan berbasis permintaan. Harapannya, lulusan yang dihasilkan bisa langsung diserap pasar melalui penguatan jalinan kerjasama dengan Dudi.
Dengan lebih dari 150 partner kerjasama, Dudi dan lembaga pemerintahan juga menjadi tujuan penempatan mahasiswa untuk kuliah keahlian. Kuliah keahlian ini dilakukan selama dua semester akhir. Dari kuliah keahlian inilah, mahasiswa Pendidikan Vokasi kemudian banyak yang ditawari untuk langsung bekerja setelah lulus. Bahkan beberapa bidang keahlian yang mahasiswanya sudah ditawari bekerja sebelum lulus adalah Desain Komunikasi Visual, Perpustakaan dan Arsip, Pariwisata dan Perhotelan, Manajemen Informatika, Perbankan, Perpajakan, Kesekretariatan,dan Akuntansi.
Dalam menjalankan perkuliahan, pendidikan vokasi didukung 25 tenaga pengajar baik PNS, Non-PNS maupun dosen luar biasa. 95% dosen luar biasa yang terlibat di sini adalah praktisi yang profesional dibidangnya. Ruang perkuliahan juga dilengkapi dengan sarana prasarana sesuai standar Dikti yang menampung maksimal 40 mahasiswa/kelas. Proses belajar mengajar juga disertai praktek laboratorium seperti laboratorium Bahasa Inggris, laboratorium komputer, laboratorium televisi dan film, laboratorium desain, mini bank, laboratorium miniatur pariwisata dan perhotelan, laboratorium miniatur kesekretariatan.
Pada 2016 ini, akan dibangun juga laboratorium sentral terpadu yang diberi nama laboratorium Vokasi dan Industri Kreatif. Dengan pembangunan laboratorium ini, diharapkan akan tercipta produk dan jasa kreatif yang bisa dimanfaatkan masyarakat disamping untuk memenuhi standarisasi Dudi. Selain itu, juga untuk selalu meng-up date ketrampilan serta pengetahuan dosen dan mahasiswa.  
Menghadapi tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang kompetitif, lulusan Pendidikan Vokasi UB juga dilengkapi dengan sertifikat kompetensi. Upaya ini dilakukan dengan menggandeng puluhan lembaga sertifikasi profesi nasional di Indonesia. [denok]