Penerbit Minta Maaf, Tarik Semua LKS


TARIK LKS: Kepala Divisi Redaksi JP Press Media Utama, Supolo Setyo Wibowo.

MALANG - PT Jepe Press Media Utama, penerbit buku Lembar Kerja Siswa (LKS) Brilliant untuk kelas IV SD, yang diresahkan oleh wali siswa karena memuat materi sadis dalam LKS, angkat bicara. Kepala Divisi Redaksi JP Press Media Utama, Supolo Setyo Wibowo, secara terbuka meminta maaf. Bahkan sebagai bentuk tanggungjawabnya, langsung menarik semua LKS yang sudah beredar.
"Terkait dengan LKS yang kami terbitkan, kami kaget ketika menjadi pemberitaan di Malang. Kami minta maaf kepada semua pihak yang merasa dirugikan dengan buku LKS tersebut," ungkap Supolo, kemarin sore kepada media.
Ia mengatakan secara jujur, bahwa PT Jepe Press Media Utama sama sekali tidak merencanakan ataupun menginginkan isi materi soal yang mengarah kekerasan. Semuanya di luar kesengajaan dan terjadi human error saja. Karenanya, begitu ada pemberitaan, PT Jepe Press Media utama langsung menarik peredaran LKS tersebut.
"Kami sudah menarik LKS di satu kecamatan, yaitu di Kecamatan Sumberpucung. Selanjutnya kami juga akan menarik semua LKS di daerah lain, tidak hanya di Malang Raya saja. Tujuannya supaya tidak menjadi masalah berkepanjangan. Sekali lagi, kami minta maaf karena tidak dengan sengaja," jelasnya.
Menurut Polo sapaan akrabnya, LKS Bahasa Indonesia untuk kelas IV SD ini, PT Jepe Press Media Utama secara keseluruhan telah mencetak dan menerbitkan sekitar 4.000 eksemplar. Di Kabupaten Malang, LKS yang telah beredar sebanyak 800 eksemplar. Semua LKS yang sudah beredar tersebut, nanti akan ditarik secara keseluruhan.
Tidak hanya meminta maaf secara terbuka dan menarik semua LKS, Jepe Press Media Utama secara internal juga sudah mengklarifikasi pada editor serta penulis. Termasuk menjatuhkan sanksi kepada mereka dengan memberhentikan sebagai penulis dan editor.
"Kami menganggap bahwa ini kesalahan fatal dan melanggar SOP. Secara pribadi, saya berpendapat bahwa materi seperti itu tidak layak untuk anak SD. Kecuali materi soal itu untuk anak SMA, mungkin akan tidak terlalu bermasalah," terang Polo.
PT Jepe Press Media Utama, menegaskan akan segera menyiapkan penggantinya, jika memang masih dibutuhkan oleh sekolah. Materi yang disuguhkan nantinya, akan diubah semuanya termasuk melalui evaluasi serta penelitian yang lebih ketat lagi. "Kalau memang masih dipercaya, kami akan cetak secepatnya," katanya.
Dia menjelaskan, pembuatan buku LKS setidaknya membutuhkan waktu sekitar satu sampai satu setengah bulan. Materi dalam buku disusun oleh penulis, kemudian diseleksi oleh tim editor. Buku yang tercetak, penjualannya secara retail bukan melalui pengkondisian.
Sehingga semuanya bisa mendapat buku LKS tersebut yang dijual eceran. Bukan hanya lembaga sekolah, wali murid atau guru les pun bisa membeli buku LKS tersebut di agen. "Penjualannya secara sistem door to door. Harga eceran satu buku sekitar Rp 8.000," paparnya.
Sekadar diketahui, beberapa wali siswa kelas IV SD di Kabupaten Malang, protes dengan materi LKS Bahasa Indonesia. Sebab, dalam buku penunjang tersebut ditemukan ada materi soal yang sadis. Dimana siswa disuguhkan soal yang menganalisa kasus pembunuhan.
Temuan soal tersebut ada pada Bab II halaman 19 soal nomor 7 dan halaman 20 soal nomor 8 serta 14. Dalam materi mengenai penelaahan anak terhadap peristiwa, siswa diminta berfikir masalah kasus pembunuhan. Hal ini sangat diresahkan, karena akan mempengaruhi karakter anak.
Sementara, pasca temuan LKS yang berisi materi sadis, Dinas Pendidikan Kabupaten Malang langsung bertindak tegas. Ia langsung meminta Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Pendidikan untuk menarik semua LKS yang sudah beredar.
Kepala UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Sumberpucung, Mujais, membenarkan bahwa semua LKS Bahasa Indonesia untuk kelas IV SD sudah ditarik. Penarikan karena konten materinya tidak pas untuk diajarkan kepada anak SD.
"Hasil pertemuan dengan Diknas dan penerbit, disepakati bahwa LKS harus ditarik semua. Hari ini (kemarin, red) kami telah menarik semua LKS untuk seluruh SD di Kecamatan Sumberpucung," jelas Mujais.
Di Kecamatan Sumberpucung, lanjut dia, ada 31 lembaga Sekolah Dasar (SD). Dari total lembaga tersebut, sampai siang kemarin sudah 19 lembaga yang mengumpulkan dan menarik LKS. "Penarikan sudah ada berita acaranya. Nanti akan segera ada penggantinya, tentu dengan materi soal yang berbeda dan tanpa ada materi sadisnya," sambungnya.(agp/han)