Pesantren Tradisional Bawa Gus Fahrur Raih Doktor


MALANG - Di tengah gempuran pendidikan serba modern di pondok pesantren, ternyata masih ada pondok pesantren yang mempertahankan pendidikan tradisional. Hebatnya, pondok pesantren tradisional ini juga masih banyak dicari sebagian besar masyarakat untuk mendidik putra-putrinya.
Hal inilah yang menjadi fokus utama penelitian, KH. Akhmad Fahrur Rozi, S.Ag., M.Pd.I, pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Bululawang, Kabupaten Malang, dalam sidang terbuka program Doktor Ilmu Sosial, di Universitas Merdeka (Unmer), Rabu (7/9) kemarin.
“Pondok pesantren tradisional tidak menekankan pada kurikulum pendidikan, mereka murni mengajarkan nilai agama. Ini yang ternyata masih dicari masyarakat. Masyarakat tidak hanya mencari nilai akademis saja, melainkan juga nilai agama,” kata Gus Fahrur sidang terbuka disertasinya yang di saksikan Wagub Jatim Saifullah Yusuf, Wali Kota Batu Eddy Rumpoko, Bupati Malang DR. Rendra Kresna dan lainnya.
Dalam sidang tersebut, Gus Fahrur, sapaan akrabnya, memaparkan beberapa fakta, bahwa ternyata puncak tertinggi kebutuhan manusia bukanlah sekedar kebutuhan fisikal, seperti sandang, pangan dan papan. Melainkan ada kebutuhan lain yang menyasar sisi spiritual manusia, yakni kebutuhan untuk dekat dengan Tuhan.
Dalam penelitian berjudul motivasi masyarakat dalam memilih pondok pesantren tradisional, Gus Fahrur mengungkapkan selama ini masyarakat yang mempercayakan anaknya mengambil pendidikan agama di pondok pesantren tradisional, karena semata-mata ingin memperdalam sisi spritual mereka.
Kebutuhan tersebut yang bisa didapatkan di pondok pesantren tradisional, Raudlatul Muhsinin Al Maqbul di Kabupaten Malang. Ia menceritakan, di pondok tersebut, tidak memungut biaya tinggi. Dalam waktu satu bulan, santri hanya diminta untuk membayar iuran maksimal Rp 30 ribu.
“Bahkan mereka rela tidur beralaskan tikar, karena yang mereka cari bukan kenyamanan. Melainkan kedekatan dengan Tuhan, motivasi mereka adalah mencari keberkahan Tuhan, bukan semata-mata sekolah untuk jadi dosen atau profesi lain,” terangnya.
Fakta tersebut jelas berbeda dengan iuran yang ditarik oleh pondok pesantren modern, guna melengkapi sarana prasarana pembelajaran. Menariknya, lanjut Gus Fahrur, meski banyak masyarakat yang mulai melirik pondok pesantren modern, namun peminat pondok pesantren tradisional juga tidak sedikit.
Disertasi tersebut sekaligus menjadi sindiran bagi pemerintah. Menurutnya, demi mengejar perkembangan zaman, banyak pondok pesantren tradisional yang perlahan mulai “dipaksa” oleh keadaan untuk beralih ke pondok pesantren modern.
“Sebaiknya hargailah eksistensi mereka. Jangan dicawe-cawe dengan kurikulum. Biarlah eksistensi mereka menjadi jujugan bagi mereka yang haus ilmu agama, karena mereka berdiri sudah berpuluh-puluh tahun sebelum Indonesia merdeka,” tuturnya. (nia/aim)