Petisi Penolakan Tembus 29.199

Wacana full day school yang dilontarkan Mendikbud Muhadjir Effendy langsung melahirkan petisi penolakan. Hingga pukul 20.55 tadi malam, petisi yang digagas orangtua murid, Deddy M. Kresnoputro itu ditandatangani lebih 29.199 orang dan bisa bertambah banyak pagi ini. Mereka menolak karena menilai wacana Mendikbud itu sangat tidak tepat.  Direktur komunitas Change.org Desmarita Murni, dalam petisi tersebut Deddy menyebut beberapa alasan menggalang penolakan. Antara lain, karena wacana tersebut memperlihatkan kecenderungan pengambil kebijakan kerap mengacak-acak sistem kurikulum yang ada.  "Sekarang muncul wacana untuk anak sekolah sehari penuh, dengan alasan pendidikan dasar saat ini tidak siap menghadapi perubahan zaman yang begitu pesat. Semoga bapak-bapak dan ibu-ibu tahu bahwa tren sekolah di negara-negara maju saat ini adalah mengurangi waktu sekolah, tidak ada pekerjaan rumah, dan lebih pada pembangunan karakter anak,” ujar Desmaritas mengutip pernyataan Deddy. Selain itu, Deddy kata Desmarita, juga mengutip tulisan seorang guru yang menggarisbawahi bahwa membiarkan anak sehari penuh bersekolah, seperti melepas tanggung jawab orangtua terhadap anak-anaknya ke sekolah. Selain itu, juga merenggut interaksi antara anak dengan orang tua.  "Jika kondisi pendidikan seperti itu terjadi, Deddy mengatakan orang akan memilih metode home schooling atau bersekolah di rumah sebagai opsi pendidikan bagi anaknya," ujar Desmarita. Di sisi lain, Kemendikbud mengklaim program penambahan jam sekolah‎ akan memberikan keuntungan kepada para guru. Pasalnya dalam UU Guru dan Dosen, setiap guru diwajibkan mengajar 24 jam dalam sepekan. Sementara banyak guru yang blingsatan karena harus mengejar target tersebut. "Sebenarnya penambahan waktu sekolah ini dampak positifnya sangat dirasakan guru. Karena kebijakan 24 jam itu tetap akan kami berlakukan. Dengan penambahan jam, yang kurang punya kesempatan untuk mengejar 24 jam," ujar Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud Sumarna Surapranata di Jakarta, Selasa (9/8). Selama ini, menurut Pranata,‎ guru-guru kesulitan dengan tuntutan jam mengajar. Akibatnya mereka harus mencari tambahan mengajar di sekolah lain. "Kalau sudah ada program ini, guru tidak blingsatan lagi karena ada tambahan enam jam," ucapnya. Solusi lain yang diberikan kepada guru untuk memenuhi tuntutan 24 jam,‎ adalah kesempatan masuk tim teaching.  Artinya satu mata pelajaran diajari dua guru. Cara lainnya, keterlibatan guru di pelatihan-pelatihan instruktur akan diberikan jam mengajar.  "Untuk daerah-daerah khusus seperti daerah 3T (tertinggal, terluar, terdepan) tidak perlu 24 jam. Kemudahan‎ ini diberikan agar guru bisa menikmati dana kesejahteraan lebih banyak," tandasnya.(jpnn/han)