Raih Medali Emas, Garini diganjar Beasiswa

MEMBANGGAKAN: Garini, Siswi SMK PIM yang sukses meraih medali emas di ajang O2SN 2016. (Foto ist)

MEDALI Emas di ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) 2016 dipersembahkan siswa SMK Putra Indonesia Malang (PIM), Garini Kartika Febriana. Istimewanya lagi, dalam sepekan ia mampu menyabet dua gelar kejuaraan nasional sekaligus. Medali emas sebagai juara pertama pada ajang kompetisi O2SN SMK yang digelar di Jakarta pada tanggal 28 Juli, dan medali perak pada kejuaraan Nasional (Kejurnas) 23 Juli.
Dunia karate tidak asing lagi bagi siswi berparas manis ini. Siswi kelas XI ini mulai menggeluti olahraga bidang karate sejak ia duduk di kelas II SD.
”Pada waktu itu saya sedang jalan-jalan sama ibu terus saya lihat latihan karate, tidak tahu kenapa saya merasa tertarik, saya ingin sekali seperti kakak-kakak di situ,” ujarnya bercerita.
Ketika hati nurani masa kecilnya mengatakan karate adalah hal yang diinginkan, ia lantas mulai aktif mengikuti latihan-latihan di Senaputra sampai akhirnya berkembang hingga sekarang.
Untuk menjadi seorang atlet karate pun tidak semudah yang ia bayangkan. Walaupun itu adalah hal yang ia lakukan dari hati, namun konsekuensi yang harus ia terima pun kadang menyiutkan nyalinya. Merasa malu jika mengalami kejadian-kejadian yang membuatnya merasa down ketika di medan ia bertanding. Ia mengaku sering mengalami cidera fisik dan mimisan. Hal itu bukan hanya menciderai fisiknya namun juga menciderai mentalnya, jika dalam sebuah kompetisi ia akan merasa malu.
Ia bercerita, pernah mengalami kejadian yang cukup menyiutkan mentalnya. Pada saat kelas VII SMP ia mengikuti sebuah kompetisi, pada saat itu ia terburu-buru memakai peralatan yang dipakai di kaki sehingga terserimpet akhirnya terjatuh. Peralatan di kakinya semua terlepas hingga terjatuh. Jutaan mata yang melihat pun tertawa dan membuat Garini merasa malu. “Saya malu, kelihatan sekali kalau tidak profesional,” ceritanya.
Berbekal postur tubuh yang kuat dan proporsional, pemilik tinggi 170 cm ini  menyampaikan jika dirinya dan orang tua benar-benar memperhatikan kebutuhan tubuh demi kelancaran dan kesuksesan minatnya dalam bidang Karate.
Ia mengaku tidak pernah melewatkan momen untuk berolahraga dan memenuhi tubuhnya dengan gizi seimbang dan nutrisi kebutuhan tubuh. “Orang tua benar-benar memperhatikan kesehatan tubuh badan saya,” akunya.
Ia memilki kesadaran untuk juga menjaga stamina tubuhnya, agar bisa terus meniti karir dalam dunia karate.
Selain dukungan fisik dan dukungan dari orang tua, Garini mengaku prestasi yang ia rintis mulai sejak kelas X ini juga mendapat dukungan dari sekolah. “Sekolah sangat berperan penting bagi prestasi saya, karena porsi saya untuk mengeksplor minat karate paling banyak memang di sekolah,” lanjutnya menjelaskan bentuk dukungan yang diterima dari sekolah.
Perjalanannya menuju arena O2SN diakuinya tidaklah mudah. Ia harus pandai memanaje waktu, antara berlatih persiapan lomba, dan sekolah. ”Tidak mudah mengatur waktu antara sekolah dan waktu berlatih, semuanya harus berjalan sesuai porsinya dan harus seimbang,” ucapnya.
Di medan O2SN nasional, Garini melakukan fighting sebanyak 3x, lawan yang pertama ia berhadapan dengan wakil Papua. Lawan dari Papua ini menurut Garini cukup membuat keder, karena postur tubuhnya yang tinggi besar. Begitupula dengan lawan keduanya dari Kalimantan Utara yang juga kekar dan tinggi besar. Namun keduanya berhasil dikalahkannya. Dan yang terakhir adalah lawan dari Yogyakarta yang juga berhasil ditundukkannya.

Di O2SN ini, Garini mengikuti kompetisi untuk kategori +53 kg, yang artinya kategori berat badan diatas 53.
Garini pun mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak sekolah yang telah banyak membantu memanajemen waktu serta tenaga yang bisa menuntunnya ke kompetisi Nasional itu.
“Guru-guru banyak membantu saya untuk menghantarkan saya ke kompetisi-kompetisi karate yang menjadi minat saya,” ucapnya.
Zubaidah, S.Pd, Kepala SMK PIM mengucapkan selamat dan terima kasih kepada Garini karena telah mengharumkan nama almamater. Bahkan bukan hanya nama sekolahnya saja namun juga nama Kota Malang.
“Yang paling membuat saya bangga ya karena membawa nama Kota Malang di tingkat nasional,” ungkapnya.
Zubaidah mengatakan, Garini adalah siswa yang memang mempunyai karakter kuat sebagai siswa yang berprestasi dalam bidang akademik dan non akademik.
“Dalam bidang akademik ia pun juga mempunyai prestasi yang baik, ia tidak pernah sedikitpun meninggalkan pelajaran walaupun konsentrasinya harus terpecah,” ungkap Zubaidah.
Ia mengakui kehebatan Garini dalam hal mengatur fokus. Zubaidah berpesan kepada Garini untuk terus mempertahankan prestasinya, ia ingin siswanya tersebut bisa menjadi contoh bagi yang lain untuk bisa mengatur keseimbangan antara akademik dan non akdemik.
“Sekolah mendukung setiap siswa yang berani maju untuk membawa nama sekolah, asalakan dia bisa mengatur semua, sekolah juga membantu mengatur,” jelas Zubaidah.
Selain membantu memanajemen siswa yang akan maju untuk mengharumkan nama sekolah. SMK-PIM juga memberikan apresiasi berupa beasiswa, untuk memberikan semangat dan motivasi kepada siswanya. “untuk Garini kita berikan beasiswa selama satu tahun ini, senilai Rp.4.420.000,-,” ungkap Zubaidah yang mengkalkulasi apresiasi sekolah kepada Garini.
Deka Ramanta, S.Pd Waka kesiswaan, membocorkan keseharian Garini yang aktif dalam dunia organisasi, mengikuti OSIS, dan kepengurusan ekstrakulikuler teater. Selain mempunyai kemampuan organisasi, iajuga mempunyai bakat kepemimpinan.
“Dia juga menjadi ketua kelas saat kelas X kemarin, sikapnya yang tegas membuatnya layak menjadi ketua kelas,” ucap Deka.
Deka pun ingin agar Garini bisa terus menjadi siswa yang pandai memanajemen waktunya, ditambah dengan bantuan manajerial dari sekolah, ia berharap Garini bisa menyumbangkan medali lagi bagi sekolah. (mgb/adv)