Sambut Maba, UB Pamer Prestasi Pimnas


MALANG - JUARA UMUM PIMNAS 2016. Tulisan itu tergambar dari aksi paper mob saat pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PK2Maba), Rabu (30/8/16). Menang lima kali sebagai juara umum Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional membuat bangga civitas kampus. Kebanggaan itu pula yang ditularkan kepada maba. Atas pencapaian prestasi tersebut, UB menargetkan agar para calon juara Pimnas bisa lahir dari maba saat ini.
Hal itu diungkapkan langsung oleh Rektor UB, Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, M.S saat pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PK2Maba), Rabu (30/8). Dia mengatakan, generasi riset bermula dari bibit awal ketika masih mahasiswa.
Oleh karena itu, UB mulai mempersiapkan strategi dan resep rahasia agar mahasiswa gemar meneliti dan mengembangkan riset. Tak berhenti sampai di situ, riset yang dihasilkan mahasiswa juga diharapkan dapat berkembang menjadi sebuah produk yang bermanfaat kepada masyarakat.
Jika sudah demikian, mahasiswa berpeluang menciptakan lahan bisnis baru, sekaligus memberi kesempatan pekerjaan kepada masyarakat yang membutuhkan pekerjaan.
“Tentu tidak semua bisa, tapi harapan saya melalui ajang Pimnas ini mereka termotivasi memproduksi karya mereka, termasuk mahasiswa baru ini kami arahkan untuk gemar meneliti,” katanya.
Bahkan Bisri menyetujui permintaan WR 3, bidang kemahasiswaan, Prof. Dr. Ir. Arief Prajitno, MS untuk menambah pagu pendanaan kegiatan kemahasiswaan. Ini sebagai salah satu upaya UB dalam mengembangkan potensi dan bakat minat mahasiswa, khususnya di bidang penelitian.
“Kualitas riset perlu ditegakkan di UB, tidak hanya pada dosen melainkan juga untuk mahasiswa, saya setuju saja kalau untuk itu,” ungkapnya. Dengan demikian, Bisri menaruh harap penuh kepada calon kandidat peserta Pimnas tahun depan, agar dapat menyabet gelar juara umum lagi.
Muhammad Dimyati, Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek-Dikti yang hadir dalam pembukaan PK2MABA menuturkan,  sebelum melakukan riset, maba UB harus mempunyai empat kualitas. Sebagai insan akademis, mahasiswa harus memiliki modal dasar yakni daya pikir kritis. Modal tersebut akan berlanjut menjadikan mahasiswa menjadi insan pencipta, yang gemar menghasilkan penelitian dan inovasi.
Inovasi dan karya yang mereka hasilkan, wajib diteruskan ke masyarakat dalam bentuk pengabdian. Dari ketiga kualitas tersebut, telah merangkum Tri Dharma Perguruan Tinggi. Namun, ketiga hal itu tak akan berhasil jika tanpa syarat kualitas keempat, yakni kualitas yang tidak menyukai keributan. Dim berharap, mahasiswa UB menjadi inisiator perdamaian.
  • “Kalau empat kualitas ini sudah dimiliki, nanti mahasiswa akan menjadi lulusan mandiri, yang siap memberi lapangan kerja. Saya rasa ini menjadi visi yang sangat bagus, apalagi yang dilakukan rektor saat ini cukup bagus, dengan merencanakan gedung riset yakni institut bio-sains,” katanya. (nia/oci)