Sambut OPSI, Siswa SMA Islam Teliti Popok Bekas

MALANG - Beberapa pelajar tingkat SMA se-Kota Malang menyambut antusias gelaran Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2016. Beberapa waktu lalu, puluhan pelajar yang akan mengikuti ajang tersebut, mendapat pelatihan di Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Malang. Dr. Ninik Kristiani, M.Pd, pengawas SMA yang juga menjadi pembimbing mengatakan, penelitian sejatinya adalah proses yang dilakukan dengan tahapan ilmiah. Sehingga meski mahasiswa maupun siswa, sama saja. “Karena metode ilmiahnya sama, proses penelitian kan melalui metode ilmiah, menghasilkan penelitian, berlanjut ke produk abstrak terakhir produk konkrit,” jelasnya. Hanya saja, memang kemampuan berpikir mahasiswa lebih mendalam ketimbang siswa SMA. Meski demikian, Ninik optimis, siswa SMA juga tak kalah unggul dengan penelitian mahasiswa. Terkait dengan OPSI, ninik dan beberapa rekan lain yang membantu para siswa pendampingan penelitian mengatakan, bentuk bimbingan lebih mengarah pada capaian sesuai yang diinginkan oleh pihak penyelenggara. “Kita setiap tahun sekali mengarahkan anak-anak supaya mengikuti target dari tim penyelenggara,” terangnya. Adapun OPSI yang ditawarkan tahun ini terdiri dari tiga hal, yakni sains dan teknologi, matematika dan rekayasa, sosial dan humaniora. Ninik menyebutkan, tujuan dari ajang yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ini adalah untuk memotivasi siswa SMA dan MA untuk dapat berkreasi sesuai bakat dan minat, dari masing-masing pribadi. “Mereka yang hadir saat ini akan diarahkan untuk mendaftar online, selanjutnya setelah masuk mereka dituntut membuat presentasi. Jika lolos, ada medali emas, perak dan perunggu. Yang dapat medali emas akan mewakili Indonesia ke tingkat internasional,” tukasnya. Di lain sisi, Chrisly Dyzha Prianti dan Cyntia Anggaretta, siswi SMA Islam Kota Malang membuat penelitian tentang popok bekas. Dengan sentuhan judul, “membekas di kehidupanku”, kedua siswi kelas XII itu mencoba menjadikan gel dalam diapers bekas sebagai media pengganti tanah, terutama untuk tanaman hidroponik. Namun, popok bekas yang diambil gel nya hanya bekas yang terkena air kencing saja. Sebab, air kencing bayi juga mengandung urea, yang disinyalir baik untuk pertumbuhan tanaman. “Fungsinya sama seperti tanah, daripada limbahnya mengotori sungai lebih baik dimanfaatkan sebagai pengganti media tanah,” terangnya. Untuk menambah nilai estetika, di atas gel bisa diberi tambahan tanah baru diletakkan bibit tanaman. Dalam penelitian ini, dua siswi berkerudung itu mengambil contoh tanaman cabe, karena pertumbuhan yang relatif cepat hanya membutuhkan waktu sebanyak dua bulan. (nia/oci)