Sandang The Best Theory, Arkananta Raih Medali Emas


MALANG - MTs Negeri  Malang 1 sukses mempertahankan tradisi emas dalam ajang Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Nasional. Arkananta Rasendriya siswa MTs Negeri Malang 1 berhasil membawa medali emas untuk Kota Malang dan Jawa Timur dalam KSM Nasional yang digelar di Pontinak pekan lalu.
Kepala MTs Negeri Malang 1, Drs. Samsudin, M. Pd merasa bersyukur tahun ini siswanya kembali mendapat medali emas di KSM. Selama tiga tahun berturut-turut MTs Negeri Malang 1 selalu menyumbangkan medali emas.
”Alhamdulillah, kami bersyukur bisa mempertahankan tradisi ini selama tiga tahun berturut-turut,” ungkapnya.
Tahun lalu medali emas didapat siswa MTs Negeri Malang 1 dari bidang Matematika. Sedangkan tahun ini, Arkananta berhasil sebagai juara kategori the best teori di bidang fisika. Samsudin mengatakan upaya pembinaan siswa di program olimpiade menuai hasil yang bagus. Program kelas olimpiade yang dibentuk madrasah di Jalan Bandung ini dalam mengambangkan bakat dan minat siswa di bidang sains tidak sia-sia.
”Selain di kelas anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dalam pelajaran sains kita kembangkan lagi di kelas olimpiade dan ekstrakurikuler,” tambahnya.
Ia menjelaskan, setiap siswa yang tergabung dalam kelas olimpiade diberikan hak sama utuk berkompetisi. Termasuk di ajang KSM ataupun OSN. Namun secara teknis, para guru memberikan kesempatan berlomba kepada siswa yang dianggap paling siap.
”Bukan pintar atau tidak, tapi siapa yang paling siap dia yang kami utus. Dan tidak hanya KSM dan OSN, semua jenis kompetisi baik yang digelar Perguruan Tinggi maupun sekolah selalu kami berikan kesempatan bagi siswa olimpiade,” ucapnya.
Guru pembina olimpiade MTs Negeri Malang 1, Luluk Hariroh, S.Pd M.Si mengatakan, kelas olimpiade diadakan untuk pembinaan yang lebih intens pada siswa. Materinya pun memiliki bobot yang lebih tinggi dari materi ajar di kelas.
”Semakin mendekati waktu kompetisi pembinaan juga kami lakukan semakin intens,” katanya.
Ia menilai, sosok Arkananta sebagai pelajar yang tekun dan tidak mudah menyerah. Kesulitan yang dihadapi dalam belajar selalu menjadi  tantangan yang harus bisa diselesaikan.
”Bahkan di dalam lomba pun seringkali dia meminta kami untuk menanyakan pada juri dimana letak kesalahannya, jadi tidak pasrah begitu saja,” imbuhnya.
Bagi Luluk, siswa olimpiade di lingkungan MTs Negeri Malang 1 tidak hanya diukur dari faktor kecerdasannya saja. Lebih dari itu yang terpenting adalah etika dan pemahaman terhadap pelajaran agama.
”Kalau hanya pintar buat apa. Akhlak tetap yang terpenting. Makanya di KSM pun materi soal yang diberikan juga ada materi agamanya. Meskipun tidak sebanyak materi sains,” terangnya.
Ia berharap, tradisi emas di olimpiade dapat dipertahankan. Para siswa diharapkan mampu berkompetisi di luar madrasah sebagai ajang untuk mengembangkan potensi diri dan mental bertanding.  
”Jadi kami tidak menekan anak-anak untuk juara. Apapun hasilnya yang paling penting bagi kami melatih mereka untuk berkompetisi dan memiliki mental kompetisi yang kuat,” tukasnya. (imm/sir/oci)