Siswa SMAN 3 Tes Bahasa Inggris


TES TULIS: Para siswa baru SMAN 3 mengikuti tes tulis Bahasa Inggris (Foto: Muhammad Dhani Rahman/mpg)

BATU - Demi melihat kemampuan siswanya berbahasa Inggris, SMAN 3 langsung menggelar tes Bahasa Inggris, Rabu (13/7) kemarin. Peserta ujian Bahasa Inggris adalah siswa yang baru lulus seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini.  
Anto Dwi Cahyono , Plt Kepala Sekolah SMAN 3 menegaskan placement test ini hanya untuk mengukur kemampuan berbahasa Inggris siswa. Fungsinya, selain untuk melakukan pendampingan, juga diperuntukkan untuk pedoman penentuan kelas, ketika siswa di kelas XI nanti.
‘’Lewat ujian ini kita menjadi tahu bagaimana level kemampuan anak didik berbahasa Inggris, dengan cara ini akan menjkadi patokan kita memberikan pengajaran sesuai dengan tingkatannya," terang guru yang juga pakar robotic ini.
Di sekolah ini, ada tiga jurusan yakni IPA, IPS dan Bahasa, hanya yang membedakan adalah sekolah ini menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi sehari-hari.
"Kalau dipembelajaran kelas, hanya pelajaran bahasa Inggris yang diperkenankan berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Untuk pelajaran lain tetap menggunakan bahasa Indonesia, aturannya memang seperti itu," terangnya.
Untuk ujian dan pembelajaran Bahasa Inggris, SMAN 3 Batu menggandeng English First (EF), lembaga pendidikan bahasa Inggris di Malang.
Ditempat terpisah Robby Aditya, English Center Director EF Malang menjelaskan bahwa ujian yang dilaksanakan ini bertujuan untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris siswa.
"Tadi waktu saya ngomong bahasa Inggris di depan, banyak yang masih ndomblong, karena tidak mengerti. Tapi tidak masalah, ini adalah awal yang baik, saya yakin siswa di SMAN ini akan memiliki keahlian berbahasa Inggris," ujar Robby.
Ujian yang dilaksanakan kemarin menekankan pada tulis dengan 50 pertanyaan. Pertanyaan itu meminta peserta membuat tulisan pendek.
Di Batu, beberapa SD sudah bekerjasama dengan EF, sementara yang SMA, hanya SMAN 3 Batu  yang bekerjasama dengan EF. "Pola pengajaran di EF akan diadopsi di sekolah ini, kita optimis dalam waktu singkat sekolah ini menjadi sekolah unggul," ujarnya.
Robby membenarkan menciptakan sekolah unggulan bukan seperti bermain sulap, namun harus mendapatkan dukungan dari guru pengajar maupun orang tua murid. "Kita berharap semua memberikan suport," tegasnya. (muh/feb)