SMPN 10 Malang Juara Lomba Sekolah Sehat Nasional

MALANG – SMP Negeri 10 Malang menjadi salah satu dari 24 sekolah se Indonesia yang berhasil meraih juara dalam Lomba Sekolah Sehat (LSS) tingkat nasional. Dan menjadi satu-satunya sekolah yang mewakili Malang Raya. Tentu raihan prestasi ini sangat membanggakan bagi Kota Malang serta civitas SMPN 10 pada khususnya. Supandi, S. Pd M. M. Pd, Kepala SMPN 10 merasa bersyukur akan prestasi yang diraih lembaganya saat ini. "Keberhasilan ini berkat peran banyak pihak. Termasuk Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan serta guru dan siswa yang turut berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat," katanya. LSS merupakan lomba yang digelar pemerintah melalui empat kementerian. Yaitu Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, Kementerian Agama dan Kementerian Dalam Negeri. Ada dua kategori dalam LSS, yaitu kategori kinerja terbaik dan prestasi terbaik. SMPN 10 Malang yang telah menyandang predikat Adiwiyata Mandiri ini sukses menjadi juara 1 kategori prestasi terbaik tingkat SMP. Diakui Supandi, menjadi juara dalam LSS bukanlah hal mudah. Dibutuhkan proses yang sangat panjang dan upaya yang konsisten. Kendati demikian, adanya LSS bukan faktor utama yang membuat SMPN 10 menjadi sekolah sehat. "Bukan karena lomba, tapi memang mewujudkan sekolah bersih yang sehat itu sudah lama kita lakukan untuk memberikan layanan pendidikan terbaik bagi para siswa," tambahnya. Ia menjelaskan, sekolah yang sehat dapat meningkatkan mutu pendidikan yang akan memberikan dampak signifikan pada tumbuh kembang peserta didik dalam mencapai prestasi. Makna sehat itu sendiri dikombinasikan dari empat hal yaitu kesehatan fisik, mental, sosial dan spiritual. Sementara untuk menjadi sekolah yang sehat, SMPN 10 mempunyai parameter tersendiri. Selain bersih, rindang dan asri, sekolah juga tidak berpotensi banjir atau penyumbang banjir ke daerah lain. "Oleh karena itu kita mengolah sanitasi dan drainase dengan sebaik-baiknya, termasuk pada pengolahan sampah dan makanan yang dijual di kantin,” tuturnya. Terkait sampah bukan lagi menjadi masalah besar bagi SMPN 10. Dalam beberapa tahun terakhir sekolah di Kecamatan Kedungkandang ini telah bisa mengelola dan memilah sampah sendiri. Apalagi dengan adanya kebijakan sekolah bebas dari sampah plastik semakin mempermudah pengolahan sampah menjadi pupuk tanaman. "Sampah organik kami olah menjadi pupuk dan dimanfaatkan sendiri. Karena luas sekolah kami 22.700 meter dengan tanaman dan pepohonan yang banyak. Sampah ini harus dimanfaatkan. Sebab penghasil sampah terbesar setelah pasar itu sekolah. Dan tidak banyak yang menyadari itu,” terang Supandi.. Hal lain yang menarik di lingkungan SMPN 10 yaitu diterapkannya upaya peningkatan derajat kesejahteraan warga sekolah dengan cara menyediakan pangan yang bebas 5 D (pengawet, pewarna, pengenyal, perasa, pemanis) dan KMP (kertas, minyak, plastik). "Kami memperlakukan lingkungan sekolah sedemikian rupa dengan harapan bisa dijadikan media pembelajaran. Seluruh aktivitas siswa selama di sekolah selalu mengacu pada prosedur operasional standart yang kami tetapkan. Sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan sehat," jelasnya. (*/sir/oci)