Songsong Postur 2, Mardi Wiyata Gelar Espad Sisipan


MALANG - Hari ini, Minggu (4/9/16), Yayasan Mardi Wiyata menggelar kegiatan Espad, yakni evaluasi terpadu sisipan menjelang berakhirnya postur 1 dan penyusunan program kerja sebelum memasuki postur 2 pada awal 2018 mendatang. Kegiatan ini digelar di Desa Sawiran Kecamatan Nongkojajar Kabupaten Pasuruan dan diikuti oleh Kepala Sekolah, Waka Kurikulum dan Waka Kesiswaan dari seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Mardi Wiyata.
Ketua Yayasan Mardi Wiyata Fr. Dr. M. Monfoort, BHK, SE. M.Pd MM. MH mengatakan Espad perlu dilakukan untuk melakukan yang terbaik dalam satu tahun terakhir di postur 1. Selain itu yang terpenting, kata dia,  menyusun rancangan kerja sebelum memasuki postur 2 yang akan dimulai pada tahun 2018. “Jadi januari 2018 kita bisa langsung jalan dengan program yang sudah direncanakan. Masing-masing lembaga sudah bisa mempertanggungjawabkan,” ucapnya.  
Ada tiga bidang yang rencananya akan dibahas demi kemajuan sekolah Mardi Wiyata ke depan. Yakni bidang kepala sekolah, kurikulum dan kesiswaan. Masing-masing bidang telah dibentuk ketua (kordinator) yang akan memimpin dan membimbing para peserta espad. Ketua 1 Bidang Kepala Sekolah dipercayakan kepada Drs. Markus Basuki, M. Pd selaku Kepala SMPK Frateran Celaket 21 Malang, Ketua 2 Bidang Kurikulum diserahkan kepada Marcellus G. Lengi, S. Pd M.M selaku Waka Urusan Kurikulum SDK Frateran Kediri dan Ketua 3 menyangkut Bidang Kesiswaan dibina Drs. Jeremias Torimtubun yang menjabat Kepala SMPK Mardi Wiyata Malang.
Menurut Frater Mon, sapaan akrab Dr. M. Monfoort, masing-masing bidang dipercayakan kepada ahlinya. Ia menilai para ketua tersebut mampu melakukan yang  terbaik memberikan gagasan dan konsep guna kemajuan sekolah Mardi Wiyata di masa yang akan datang.
“Semuanya (tiga ketua) telah berpengalaman. Saya berharap pengetahuan dan pengalaman mereka bisa dibagi dengan yang lain,” imbuhnya.
Para peserta nantinya diminta untuk putar otak memberikan gagasan cemerlang. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi pemikir tapi juga konseptor untuk penyelenggaraan pendidikan yang lebih baik.
“Kalau hari ini kita melihat matahari terbit dari timur ke barat, bisa saja suatu hari nanti matahari terbit dari barat ke timur. Untuk itu kita harus antisipasi dan mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang terjadi,” ujar Pria yang juga Ketua Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Malang ini. (imm/adv/oci)