Tahun Ajaran Baru Jadi Monitoring PTS

MALANG - Tahun ajaran baru menjadi tahun monitoring dan evaluasi bagi beberapa Perguruan Tinggi Swasta (PTS), yang beberapa waktu lalu sempat mendapat peringatan dari Kementrian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenriset-Dikti), terkait beberapa syarat yang belum terpenuhi. Syarat tersebut mencakup kesesuaian jumlah ratio dosen dan mahasiswa, kelengkapan sarana prasarana atau gedung perkuliahan dan juga kasus internal yang merumitkan proses belajar mengajar mahasiswa. Prof. Dr. H. Suko Wiyono, S.H., M.H, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Jawa Timur, mengatakan, saat ini jumlah perguruan tinggi yang sedang melalui tahap pemulihan tinggal empat PTS. “Kalau di Kota Malang masih ada dua. Tetapi saya tidak menyebutkan mana saja,” jelasnya. Suko mengatakan, evaluasi dan monitoring penting. Tak hanya itu, kegiatan tersebut harus dilakukan secara bertahap dan continue. Sebagai Ketua APTISI, ia mengusulkan agar PTS tidak langsung ditindak oleh Kemenristek-Dikti, melainkan perlu peringatan terlebih dahulu. “Misal salah sekali, diingatkan. Kedua, salah diingatkan, kalau masih salah baru ditindak, jangan tiba-tiba. Kasihan, nyari dosen kan tidak mudah,” paparnya. Saat ini, kedua PTS di wilayah Malang raya tersebut sudah memunculkan pergerakan signifikan. “Sekarang sudah cari dosen, ada itikad baik. Tetapi cari dosen kan tidak mudah, jadi perlu dipantau,” jelasnya. Ia juga menyarankan, kepada PTS yang tidak bisa memenuhi persyaratan dari Kemenristek-Dikti, sebaiknya diakuisisi saja. “Jadi PTS kecil gabung dengan PTS besar. Daripada ditutup, kasihan semuanya,” ujarnya. (nia/udi)