Tahun Ajaran Baru, K 13 Makin Simpel


DIREVISI: Ada sedikit perubahan dalam metode pembelajaran K 13 di jenjang SMP. (Foto Ipunk Purwanto/ dok Malang Post)

MALANG -  Metode pembelajaran kurikulum 2013 (K 13) mengalami perubahan untuk tahun ajaran 2016/2017, khusus untuk kelas VII SMP. Perubahan ini dirasa memiliki keuntungan, baik dari segi penilaian ataupun pembelajaran. Sebagai persiapannya, SMP di Kota Malang pun telah mempersiapkan perubahan K 13 ini dengan melakukan pembekalan materi kepada tenaga pengajar.
Kepala SMPN 5 Malang, Drs. Burhanuddin, M.Pd mengatakan, telah mengadakan workshop dan pembekalan kepada tenaga pengajar. Ia mengaku, telah memberikan pembekalan ini jauh-jauh hari sebelum tahun ajaran baru dimulai.
“Memang sangat penting pemberian materi pembekalan dijauh-jauh hari, supaya staff pengajar bisa paham betul tentang perubahan K 13 ini,” ujarnya. Ia sudah mewanti-wanti staff pengajar agar pada saat praktiknya nanti tidak mengalami kerancuan dalam memberikan materi.
Burhan sedikit menjelaskan, untuk perubahan kurikulum ini secara garis besar adalah untuk penilaian materi dari aspek sikap yang meliputi sosialisasi dan spiritual. Penilaian tersebut seluruhnya kini diberikan kepada pengajar kewarganegaraan dan Pendidikan Agama.
“Dari keseluruhan konten di silabus juga berubah hampir 100%, oleh karena kita harus membenahi pula staff pengajar agar bisa mengaplikasikan perubahan kurikulum ini dengan baik,” ujarnya,
Ia juga memberikan komentar, jika perubahan ini merupakan hasil evaluasi Ketua MKKS SMP Kota Malang ini mengakui jika perubahan kurikulum sudah seharusnya dilakukan. Menurutnya, sudah seharusnya kurikulum dilakukan perubahan menyesuaikan zamannya, dan tugas sekolah adalah untuk mempraktikkannya dengan melakukan sosialisasi materi.
Dra. Tutut Sri Wahyuni, M.Pd, Kepala SMPN 3 Malang juga memberikan pembekalan kepada tenaga pengajarnya untuk perubahan kurikulum 2013 yang tentu saja mempengaruhi pemberian materi dalam proses pembelajaran.
“Saya sudah melakukan workshop kepada para guru di sini, pemaparan materi juga, dan kebetulan beberapa guru kita juga ada yang menjadi instruktur kota, jadi lebih mudah sosialisasinya,” jelas Tutut.
Menurutnya, dengan adanya tenaga yang menjadi instruktur kota bisa membantunya dalam sosialisasi soal perubahan materi ini.
Tutut juga memberikan komentar tentang berubahnya juga sistim penilaian yang awalnya rumit kini lebih praktis.
“Menurut saya penilaiannya sekarang lebih simple, dari banyaknya keluhan yang sudah-sudah kini lebih sedikit simple, kita jadi lebih dimudahkan,” tambahnya.
Menurutnya, perubahan K 13 bagi kelas VII ini merupakan PR yang nantinya harus dijalankan ketika tahun ajaran baru dimulai, pihaknya merasa sudah siap untuk memberikan penyampaian materi pembelajaran kepada siswa baru. Harapannya, siswa baru kelas VII nantinya bisa menerima materi  dengan baik dari guru yang telah mendapatkan bekal jauh-jauh hari. (mgb/oci)