Tambah Biaya Rp 50 Ribu Per Bulan

SMAN 5 Kota Malang, disebut oleh Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Kota Malang, Dra. Zubaidah MM sebagai salah satu sekolah yang sudah siap menerapkan sistem full day school. Sistem tersebut baru saja dimulai semenjak tahun ajaran baru ini. Kepala SMAN 5, Anis Isrofin, M.Pd, seolah sudah mengerti makna full day school. Menurutnya, pergaulan generasi muda sekarang semakin mengkhawatirkan. Di sisi lain, padatnya kesibukan orang tua, terutama di daerah perkotaan, membuat jam pertemuan mereka hanya dapat terjadi di sore menjelang malam. “Kalau siang anak sudah pulang, sisa jamnya bagaimana? Sementara pengawasan orang tua baru terjadi malam hari. Anak kemana, dengan siapa, kita tidak tahu. Dari pada terjerumus ke pergaulan yang tidak diinginkan, lebih baik di sekolah saja, bersama guru,” bebernya kepada Malang Post. Sebelum memberlakukan sistem tersebut, Anis telah mengumpulkan para orang tua siswa untuk mendapat sosialisasi tentang full day school. “Alhamdulillah, waktu itu orang tua setuju semua,” kenangnya. Anis pun menjelaskan paparan sistem full day school yang ia berlakukan di SMAN 5 Kota Malang. Para siswa dan siswi mengawali hari, semenjak pukul 06.45 WIB hingga pukul 09.45 WIB, dengan memperoleh bimbingan belajar (bimbel). Dalam kesempatan tersebut, anak dibebaskan bertanya dan mengulas materi yang mereka terima selama proses memperoleh materi sekolah, sesuai kurikulum yang berlaku. Tutor yang mengajar juga berasal dari guru-guru sekolah, yang sudah mengerti dan memahami masing-masing karakter siswa. Selanjutnya pukul 09.45 WIB hingga pukul 10.00 WIB, siswa istirahat. Pada pukul inilah, penanaman agama diberlakukan, siswa digiring melaksanakan sholat dhuha berjamaah dan mendapat sedikit siraman rohani. Sedangkan siswa non muslim, berkumpul di aula maupun ruang kelas untuk mendapat wejangan agama dari para pembimbing masing-masing. Pukul 10.00 WIB hingga 11.30 WIB, siswa menjalani kegiatan belajar mengajar seperti biasa, sesuai materi yang terdapat pada kurikulum. Selanjutnya, pukul 11.30 WIB hingga 12.00 WIB, siswa diberi kesempatan istirahat yang diisi dengan salat dhuhur berjamaah dan makan siang. Pukul 12.00 WIB hingga 14.30 WIB siswa kembali mendapat materi. 14.30 WIB hingga 14.45 WIB, siswa diberi kesempatan untuk menjalankan ibadah salat ashar. “Kalau ada yang tidak sempat salat bisa selepas pulang sekolah, karena pulangnya kan jam 16.45,” terangnya. Siklus tersebut berlaku setiap hari Senin hingga Kamis, kemudian dilanjutkan kembali di hari Sabtu. Sedangkan hari Jumat, siswa pulang lebih awal yakni pukul 15.30 WIB. Melalui sistem tersebut, Anis mengaku, sekolah sudah tidak memberi tugas untuk diberikan kepada siswa. “Kalau ada tugas dibahas sewaktu bimbel di pagi hari, ini lebih efektif,” akunya. Selain itu, dengan pembahasan saat bimbel, siswa tidak memiliki keleluasaan mengerjakan PR secara berjamaah. “Dulu saya pernah menemukan, ada satu anak yang ngerjakan PR, kemudian hasilnya difoto dan dikirim melalui chatting group,” ulasnya. Dengan begini, setelah pulang sekolah, siswa sudah tidak memiliki pikiran lagi tentang tugas maupun PR. “Sudah benar-benar kumpul dengan orang tua, menikmati waktu kebersamaan keluarga,” imbuhnya. Anis menyadari, menerapkan sistem full day school tentu membutuhkan biaya lebih, terutama untuk kesejahteraan guru yang mengajar bimbel dan juga peningkatan sarana prasarana belajar, seperti pengadaan modul. “Oleh karena itu, kami meminta orang tua membantu setiap bulan menambah Rp 50 ribu. Alhamdulillah mereka tidak keberatan,” paparnya. Agar anak tidak stres, setiap hari Sabtu, SMAN 5 Kota Malang selalu diisi dengan kegiatan menyenangkan seperti ekstrakurikuler dan penerapan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Hal tersebut dikerjakan setelah siswa menyelesaikan Ulangan Harian (UH) per program. “Sistemnya setelah pembelajaran dari hari Senin sampai Jumat, Sabtunya diulang kembali melalui UH, setelah itu mereka refreshing,” lanjutnya.(nia/han)