Tawarkan Jasa Sejak Kelas XII

MALANG - SMKN 5 Malang memberikan pembekalan yang cukup serius demi kesuksesan lulusannya bersaing di dunia kerja. Salah satunya dengan memberlakukan metode Maintenance and Repair (MnR) khusus untuk jurusan TKJ. Tujuannya agar siswa TKJ yang lebih mempelajari jasa bisa berkomunikasi kepada calon klien, baik secara verbal ataupun tulisan. “Karena program TKJ merupakan program yang lebih kepada jasa bukan hasil produk, jadi kita berfikir bagaimana caranya agar siswa jurusan ini bisa menjual jasanya dengan baik,” ujar Abdul Basith P.Sp. Ketua jurusan TKJ SMKN 5 Malang. Program MnR ini mengharuskan siswa kelas XII untuk mencari konsumen dan menawarkan jasa mereka. Tentunya jasa yang diberikan gratis tanpa ada imbalan. “Kita membebaskan mereka untuk memilih calon klien mereka sendiri, tidak hanya terpaku kepada rekanan perusahaan saja,” jelasnya lagi. Ia juga mengatakan, jika program M n R ini cenderung juga mengajari siswa untuk membentuk jiwa sosial mereka, karena sejak dua tahun belakangan ini kebanyakan membuat penawaran jasa kepada almamater asal mereka dulu. “Maintenance adalah bagaimana mereka mencari, menawarkan hingga meng deal kan proyek, hingga reparasi dilakukan,” jelas Basith. Ia juga mengacungi jempol siswa TKJ, karena mereka tidak memilih perusahaan besar untuk disasar, namun ternyata malah sekolah-sekolah mereka dulu mulai SD hingga SMP. “Ceritanya lagi bukan tanpa alasan mereka menyasar asal sekolah tempat mereka belajar dulu, adalah karena mereka ingin jasa yang ditawarkan benar-benar bermanfaat. Bukan karena ingin mencari keuntungan dari perusahaan belaka,” ujar Basith. Prosedur dari MnR ini adalah dengan pembekalan dari guru untuk membuat proposal yang akan ditawarkan ke calon klien, setelah itu barulah mereka belajar untuk bernegosiasi. “Semua diajarkan, belajar komunikasi juga karena untuk bidang jasa memang kita tekankan pada komunikasi,” kata Erlita Wanty M.Pd kepala bengkel TKJ SMKN 5 Malang. Erlita mengakui mengakui jika program MnR ini mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi dari orang tua siswa, karena siswa jadi bisa terlatih untuk berkomunikasi dan bersosialisasi karena pada dasarnya. Jika belajar tentang jasa adalah belajar untuk bisa dipercaya dan membuat yakin dengan produk intangible yang ditawarkan. Program MnR ini mulai dipelajari oleh siswa ketika mereka telah menginjak kelas XII. Program ini berada di luar prakerin. “Prakerin ada sendiri, program ini memang mempunyai harapan nantinya siswa tidak kaget ketika mereka masuk ke dunia kerja,” tutup Erlita. (mgb/oci)