Terapkan BCCT, Hadirkan Dunia Nyata Dalam Kelas


INOVASI: Kepala TK Islam Sabilillah Malang Ana Maslicha S.Pd menjelaskan isi yang ada di sentra bahan alam dan sains. (Foto ist)

MALANG - Mengajarkan sains kepada anak TK berbeda metodenya dengan anak SD. Ketika anak TK memegang tabung percobaan, mereka diajarkan bagaimana menggunakannya, menjaganya agar tidak pecah, hingga menuangkan cairan kimia agar tidak membahayakan diri sendiri. Sementara anak SD diajarkan bagaimana konsep untuk menghasilkan sesuatu berdasarkan teori yang ada.
Direktur Lembaga Pendidikan Islam Sabilillah Malang Prof Dr Ibrahim Bafadal mengungkapkan, pembelajaran kepada anak TK lebih mengedepankan rasa dan nilai-nilai, sementara pada anak SD adalah konsep yang ditonjolkan.
”Pendidikan di jenjang TK yang diutamakan bukan kompetensi dan keahlian, melainkan rasa, nilai, dan sebagainya,” ungkapnya saat acara launching metode pembelajaran Beyond Centres and Circle Times (BCCT), Rabu, (29/6/16).
BCCT adalah metode pembelajaran yang dalam proses pembelajarannya berpusat di sentra main dan saat anak dalam lingkaran. Dalam konsep ini, guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong anak didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Menurut guru besar Universitas Negeri Malang (UM) ini, BCCT adalah revolusi pendidikan yang dihadirkan Sabilillah pada bulan Ramadan ini. Tak hanya di TK, revolusi juga dihadirkan di SD, SMP dan juga SMA. Dalam kesempatan softlaunching BCCT, Ibrahim juga berkeliling melihat sentra tempat belajar anak. Ada enam sentra yang disiapkan, yakni sentra balok, bermain peran, cooking, musik dan olah tubuh, persiapan, seni dan kreativitas, bahan alam dan sains.
”Waktu kami studi banding di New Zealand, ada sentra masak di sekolah. Bagi mereka, akan lebih bagus jika anak-anak tahu cara mematikan kompor daripada mengajarkan cara me recharge handphone,” urainya.
Kepala TK Islam Sabilillah Malang Ana Maslicha S.Pd menuturkan, BCCT ini sudah disiapkan sejak April lalu. Tim guru sudah melakukan studi banding dan juga menggali berbagai sumber. Sentra yang disiapkan dipilih sesuai dengan kebutuhan kurikulum di TK.
”Dengan model pembelajaran ini diharapkan anak-anak menjadi lebih senang belajar, menjadi mandiri, bisa bersosialisasi, bekerjasama, komunikasi dan menjadi kreatif,” urainya. (oci)